Sunday, January 13, 2013

[#Egyptology] Jus Lemon di Tepi Batalyon

Sore itu kira-kira pukul 17.00, sepulang dari Abu Simbel Temple, saya berangkat dengan taksi menuju The Philae Temple. Ongkos taksi tidak sempat saya tawar semurah mungkin. Jadilah harga EGP. 50 saya sepakati dengan sang sopir untuk mengantar pulang pergi dan menunggu beberapa saat di tempat tujuan.

Dengan perasaan ketar-ketir saya duduk di taksi yang menelusuri jalan aspal di pinggiran sungai Nil. Rute jalan itu mengular dan agak menanjak.

“Berapa menit kita sampai ke kuil Philae?” Tanya saya penuh khawatir kepada Husein sang sopir.

“Hawalay khomasta’asyar dai’ah. Kira-kira lima belas menitan.”, jawab Husein. Husen sang sopir taksi yang seorang Nubian tulen. 

Sepanjang perjalanan saya mencoba menyulam komunikasi dengannya. Namun, dialek Nubian-nya sangat kental mendominasi bahasa Arab ‘Ammiyyah-nya. Sehingga, sebagai orang yang pertama kali mendengarnya, saya sulit sekali memahaminya. Saya hanya bisa menangkapnya sepenggal-sepenggal saja, sehingga saya berkali-kali memintanya mengulang ucapannya.

Maklum, saya banyak sekali bertanya kepadanya karena khawatir telat sampai lokasi tujuan. Karena, jika merujuk pada buku panduan terbitan The National Gheographic, tertulis di sana bahwa kuil ini sebenarnya tutup pada pukul 16.00. Saya nekat tetap berangkat setelah melihat tahun terbit buku itu adalah 2002. Saya harap-harap cemas, mudah-mudahan saja ada kebijakan baru tahun ini yang menambah waktu buka kuil ini.

Tak lama, taksi yang kami tumpangi sampai di gerbang pertama kuil Philae.

“Intu ruh fein? Kalian mau pergi kemana?” Seorang polisi berseragam hitam-hitam dengan senapan pendek di punggungnya mendekat sembari bertanya.

“Kami akan pergi ke kuil Philae. Orang ini adalah mahasiswa Al Azhar dari Kairo yang ingin berkunjung”. Husen menjelaskan.

Saya memperlihatkan karneh (kartu mahasiswa) Universitas Al Azhar Kairo kepada polisi tersebut. Polisi itu mengangguk-angguk.

Namun, kekhawatiran saya ternyata berusia pendek. Polisi itu menjelaskan bahwa jam kunjungan sudah ditutup pukul 16.00 tadi. Ia menyarankan saya untuk berkunjung esok pagi. Seketika itu juga saya lemas karena esok hari sudah ada agenda lain.

Taksi pun mundur teratur. Kemudian menepi. Namun, bukan orang Nubian jika Husen tidak bermurah hati. Ia lantas menawarkan kepada saya untuk mengantar berkeliling mendekati kuil Philae. Ia tahu sudut di mana Philai bisa terlihat indah saat senja. Philae di senja hari, memang itu yang saya kejar.

Taksi pun berputar arah. Gesit mengejar matahari menguning yang nampak sedang turun perlahan menuju garis cakrawala. Taksi menyusuri jalan aspal kecil di atas bukit berbatu. Sampailah kami di sebuah perkampungan kecil tepat di tepian bendungan Aswan.

“Mari ikuti saya!” Husen bergegas melepas sabuk pengaman dan turun dari taksi. Saya mengikutinya tergesa.

Jalan setapak menurun kami susuri. Rumah-rumah sederhana berbentuk persegi di kanan kiri seolah mengucapkan, ”Selamat datang di negeri kami”. Pasir dan kerikil-kerikil mengantarkan kami ke tepian bendungan Nil yang hampir serupa dermaga. Memang ada dermaga kecil di sana. Sangat indah! Dari arah atas, mata saya tertuju pada kapal-kapal kecil, perahu-perahu kayu, felluca dan sampan yang berderet rapi. Dari kejauhan, seorang pria nampak tengah sibuk menurunkan jangkar.

“Lihatlah itu!” sembari terus berjalan, Husen menunjukan telunjuknya ke arah selatan. Mata saya mengikuti arah itu. Menakjubkan! Kuil Philae nampak berada di tengah pulau berbatu dengan di kelilingi sudut-sudut hijau yang sepertinya itu adalah kumpulan pohon kurma dan Akasia. Pulau itu bertetanggaan dengan pulau-pulau batu lainnya yang lebih besar. Salah satunya adalah yang sedang saya pijak ini. Saya berdiri di tepian bendungan.

Dalam pandangan mata saya, pulau dan kuil itu satu arah dengan deretan perahu yang tertambat, dikelilingi air Nil yang sangat tenang. Di sebelah timur, tembok yang sekaligus berfungsi sebagai jembatan bendungan, nampak berdiri kokoh menahan air yang mengalir dari selatan menuju utara Mesir.

“Indah sekali. Apa nama tempat ini, Husen?” Mata saya masih tertambat pada pulau dan kuil di kejauhan itu. Husen tak sempat menjawab saat sebuah suara datang dari arah belakang kami,

“Batalyon! Tempat ini bernama Batalyon.”

Seketika itu juga saya dan Husen membalikkan badan mencari sumber suara. Tidak jauh dari tempat kami berdiri, seorang pria tua tengah duduk di teras rumahnya yang sederhana. Ia bersurban putih yang hampir kelabu. Baju gamis biru pucat menyelubungi tubuh rentanya yang agak tambun. Rambut berubannya menyembul dari balik sorbannya. Sebelah matanya nampak sudah tak bisa lagi melihat dengan normal. Ia tersenyum bersahabat kepada kami.

“Batalyon? Mengapa namanya seperti sekelompok tentara?!” Saya menghampirinya sambil bertanya dengan suara sedikit keras karena khawatir ia tak mampu mendengar dengan jelas. Husen mengikuti saya.

“Assalamu’alaikum!” Saya mengulurkan tangan.

“Wa’alaikumsalam warrahmatullah, fadlal! Silakan!” Pria tua itu menjabat erat. Telapak tangannya kasar dan padat. Saya duga dahulunya ia adalah pekerja keras.

“Dari dahulu namanya sudah Batalyon. Saya juga kurang begitu tahu mengapa namanya seperti itu. Mungkin dahulu di sini tempat tentara”. Ujar pria yang belakangan saya ketahui namanya adalah Daktur.

Putra Daktur yang bernama Hasan datang dari dalam rumah, menghampiri kami bertiga yang duduk di teras menghadap ke arah dermaga. Ia membawakan baki kecil dengan tiga gelas lemon dingin segar di dalamnya.

“Sejak kecil saya tinggal di sini. Rumah ini adalah rumah saya dan keluarga anak-anak saya.” Daktur memperkenalkan keluarganya yang ternyata tengah memperhatikan gerak-gerik kami dari dalam rumah. 

Hasan pun memperkenalkan istrinya yang saya lupa namanya, dan Muhammad anaknya yang masih berusia dua tahun. Nama anak itu semakin memperkuat hipotesa saya bahwa kebanyakan laki-laki di Mesir bernama Muhammad.

Saat melihat ke arah cakrawala, saya terkesiap karena ingat belum shalat Ashar dan Dhuhur. Di jalan tadi saya berencana untuk menjama’ qasharnya di tempat ini.

“Bolehkah saya ikut shalat di rumah anda?” tanya saya kepada Daktur.

“O ya, silakan-silakan. Maaf rumah saya berantakan!” Ujarnya.

Hasan menunjukkan tempat wudlu di dalam rumahnya. Benar-benar rumah yang unik dan sangat khas. Tidak begitu besar namun melambangkan suasana kekeluargaan yang hangat. Saat berjalan ke dalam, Muhammad kecil yang nampaknya belum lama bisa berjalan itu berlari-lari kecil mengikuti saya. Rambut pendeknya sedikit pirang dan ikal. Bulu matanya lentik menghiasai matanya yang bulat, hidungnya mancung. Di depan pintu kamar mandi saya membungkukkan badan dan mencubit lesung pipitnya. Lucu dan menggemaskan.

“Nampaknya perahu anda banyak sekali.” Ucap saya kepada Daktur. Saya duduk kembali di sampingnya di teras rumah setelah selesai shalat.

“Saya hanya punya beberapa saja. Semua dikelola anak saya, Hasan. Kami menyewakannya untuk transportasi turis asing menuju kuil Philae. Sebagian yang lain kami pakai untuk menangkap ikan.” Tutur Daktur sembari mempersilakan saya untuk menikmati lemon segar yang dari tadi menanti.

“Anda menangkap ikan untuk dijual?” susul saya.

“Kami menjualnya ke Aswan. Sayang sekali hari ini kami tidak punya stok ikan untuk dihidangkan.” Daktur menatap saya sambil tersenyum.

“Oh.. tidak apa-apa, lemon segar ini sudah lebih dari cukup.” Pungkas saya sambil membalas senyumnya.

Saya ingin sekali mengajaknya berpose di depan kamera yang saya bawa. Tapi, keraguan menyelimuti saya setelah tadi ketika pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini ada seorang laki-laki pribumi yang marah ketika hendak saya jepret.

“Bapak, apakah di sini berfoto tidak diperbolehkan?” tanya saya sembari menjaga nada pertanyaan, khawatir pertanyaan saya ini menimbulkan ketidakenakkan baginya.

“Oh tidak! Silakan saja kalau mau berfoto”, sambutnya.

Saya menceritakan pengalaman dimarahi oleh seorang laki-laki pribumi tadi kepadanya. Daktur bercerita bahwa masyarakat di Batalyon memang agak trauma dengan kamera. Dahulu pernah ada turis Eropa yang mengambil foto-foto di Batalyon dan memuat foto-foto itu dalam sebuah majalah dengan narasi yang tidak mengenakkan hati mereka sebagai penduduk pribumi.

Di teras rumah Daktur. Berpose bersamanya dan istrinya.

“Anda seorang muslim. Saya juga muslim. Kita bersaudara. Saya tidak boleh berprasangka buruk pada anda, Nak. Silakan kalau mau mengambil foto”. Ucapannya amat menenangkan saya. Beberapa momen berhasil diabadikan.

Siluet senja, deretan perahu, felucca dan sampan. Juga, The Philae Tample yang bermandikan cahaya matahari senja dan sorotan lampu. Dan tentu saja yang tak kalah penting bagi saya adalah, berpose bersama keluarga Daktur.

Kami pun berpamitan setelah saling bertukar nomor ponsel dan menuntaskan regukkan terakhir dari segelas lemon segar di beranda rumahnya. Saat itu, langit di cakrawala merah merona.[]



Masih banyak cerita lainnya. Nantikan #egyptology di awal Februari.

Salam hangat, 
Rashid Satari

[#Egyptology] Sebuah Prolog



Apa yang ada dalam pikiran Anda ketika mendengar “Biologi”, “Fisiologi”, “Antropologi” dan gi.. gi.. lainnya? Mungkin pikiran Anda akan refleks membayangkan hal-hal ilmiah nan rumit. Lalu, sekarang apa yang terlintas di pikiran anda saat mendengar “Egyptology”?

Ilmu tentang ke-Mesir-an kah? Mungkin tentang politiknya, tentang industri pariwisatanya, tentang komoditasnya. Bisa jadi itu. Tapi di sini, bukan.

Ini adalah judul buku saya. Tepatnya, buku pertama saya yang ditulis secara bersendiri. Berisi tentang pengalaman perjalanan saya di sana. Pengalaman berinteraksi dengan masyarakatnya yang sangat unik. Ada yang bertanya, apakah ini buku traveling? Apakah ini buku backpacker?

Bukan keduanya. Menurut seorang teman yang ahli perbukuan, ini tergolong genre memoar traveling. Genre buku yang masih jarang di Indonesia. Buat yang pernah baca The Geography of Bliss, bisa membayangkan seperti itulah kurang lebih Egyptology.

Saya bertemu dengan orang-orang baru di sana. Kebiasaan-kebiasaan, adat dan budaya baru di sana. Setidaknya baru menurut saya. Dari utara hingga selatan, dari barat hingga timur, Mesir sangat bahkan terlalu kaya. Pantas saja negeri ini disebut ibunya peradaban dunia (Umm Ad Dunya).

Saya ingin mengajak Anda mengakrabi Mesir bukan dengan cara yang biasa. Bukan dengan cara yang biasa dilakukan buku-buku atau pemandu wisata. Saya tidak mengajak Anda melihat bagaimana bentuk Piramida. Saya mengajak Anda mengakrabi hal yang jauh lebih sederhana dari itu semua. Hal sederhana namun seringkali luput dari jepretan kamera pelancong pada umumnya.

Banyak orang yang pernah ke Mesir, dengan berbagai urusan. Namun, saya yakin setiap orang akan punya kesan dan ceritanya sendiri-sendiri. Seperti kerumunan orang di satu taman, mereka tak kan punya cerita yang sama.

Maka tentang Mesir, inilah cerita saya. Saya amat menikmati senti demi senti jalanan di sana, butiran demi butiran pasir yang memenuhi daratannya, tiupan demi tiupan angin yang menyelimuti udaranya. Semoga Anda juga menikmatinya. Lebih jauh.. semoga Anda berkesempatan mengunjunginya.

Selamat membaca.  

Bandung, 13 Januari 2012
Salam hangat,

Rashid Satari


NB : Egyptology sedang menunggu detik-detik kelahirannya. Sembari menunggu, saya akan ceritakan beberapa cuplikan isinya di sini. Dan, jika tak ada aral melintang, ia akan lahir akhir bulan ini. InsyaAllah. Mohon doanya ya.. :)





Saturday, January 12, 2013

[Mulang ka Garut 5] Dua Gadis Kecil

Dua gadis kecil. Usia yang satu sekitar 9 tahunan, dan yang satunya lagi mungkin setahun lebih muda darinya. Paras mereka mirip. Mungkin mereka kakak beradik. 

Rambut mereka yang pirang terbakar matahari, agak basah oleh hujan. Sandal karetnya yang lusuh, kotor oleh tanah basah. Nampak cipratan tanah yang mulai mengering pada tumit dan betisnya. Masih terlihat hujan dari balik kaca jendela. 

Kondektur bis nampaknya sudah mengenal mereka. Kedua gadis kecil itu menumpang bis ini tanpa biaya. 

Dengan malu-malu, gadis yang paling kecil duduk di jok sebelah saya yang memang kosong. Saya sunggingkan senyum. Saya pindahkan ransel ke pangkuan saya, lalu mempersilahkannya duduk. Gadis yang lebih besar berdiri disampingnya. Si gadis kecil nampak mengantuk dan tertidur di samping saya. Kepalanya tersandar ke pundak saya, rambutnya yang basah menempel di lengan baju saya. 

Mau kemana sebenarnya mereka? 

Tiba-tiba, dua orang penumpang di jok depan saya berdiri dan hendak turun dari bis. Melihat jok yang kosong, gadis yang lebih besar pelan-pelan menghampirinya lalu duduk di sana. 

Gadis itu menemukan sebutir permen jahe di atas jok itu. Ia memungutnya dan membukanya. Lalu, ia menggigitnya. Saya kira ia langsung memakannya. Ternyata tidak. 

Gadis itu menggigitnya, membagi permen kecil itu jadi dua. Lalu, dia mendekati gadis kecil yang tidur bersandar di tangan saya. Ia membangunkannya. 

Si kecil pun terbangun. Gadis yang lebih besar menyodorkan potongan permen itu padanya. Si kecil meraihnya. Memasukkannya pada mulut mungilnya. Lalu, pelan-pelan kelopak matanya mulai kembali terpejam. 

Bahkan mereka pun berbagi! Ya, mereka berbagi sebutir permen yang mungkin tak kan sempat sampai ke lambung mereka. 

Melihat mereka berdua, ada gerimis di hati saya. Sementara, hujan di luar menyisakan basah pada dedaunan. 

Terima kasih gadis-gadis kecil. Siang ini kalian memberi pelajaran berarti. Memberi. Berbagi. 


Gambar diambil dari sini.


04 November 2011,
Rashid Satari 

#perjalanan Garut - Bandung


[Mulang ka Garut 4] Tulus

Pagi tadi, setiba di lokasi sebuah training, saya melihat beberapa siswa SLB (Sekolah Luar Biasa) sedang berkumpul tak jauh dari tempat parkir motor. Mereka nampak mengenakan kaus olahraga warna merah marun, dengan tas masing-masing di punggungnya. 

Setelah turun dari motor, tiba-tiba salah satu dari mereka datang menghampiri saya. Anak laki-laki. Usianya mungkin 10 tahunan. 

Anak itu mendekati saya. Dia mengulurkan tangan kanannya kepada saya. Oh, dia mengajak saya bersalaman. Saya pun menyambutnya. Tangan kami saling terpaut. Hey, dia menyentuhkan punggung tangan saya ke keningnya. Ada senyum di wajahnya. 

Lalu, saya bertanya padanya, "Mau kemana?" 

Dia menjawab dengan kalimat yang tidak saya mengerti. Namun, tangannya mengisyaratkan gerakan berenang. "Oh.. Mau renang ya?!" Ucap saya padanya. Dia tersenyum lebar. Nampak deretan giginya yang jarang. Sungguh ramah, padahal baru kali itu kami berjumpa. 

Tak lama, dia pun berlalu sambil melambaikan tangannya pada saya. Dengan sumringah, dia berlari menuju teman-temannya yang mulai meninggalkan tempat itu. 

Saya terpaku menatap punggungnya yang makin menjauh dari saya. Saya tak bisa berkata-kata. Hanya takjub yang terasa. 


Gambar diambil dari sini.

Ada yang tak sempat saya ucapkan padanya, "Terima kasih adik kecil. Sepagi ini kamu sudah mengajarkan saya arti ketulusan. Kamu anak spesial. Ya, kamu anak luar biasa!" 

Saat dia makin menjauh dan tak terlihat lagi, saya masih berdiri mematung. Speechless. 


Garut, Jumat - 07 Oktober 2011 - 07.48 WIB,
Rashid Satari


Thursday, January 10, 2013

[Mulang ka Garut 3] Kakek Sembunyi dari Pencuri

Sudah 14 tahun yang lalu kakek meninggalkan kami. Namun, ternyata sekian lama saya bercengkrama dengannya, masih banyak hal yang belum saya ketahui tentangnya. 

Kemarin, senin 28 Juni 2010, saya bersama paman, bibi, ibu, nenek dan sepupu, melakukan perjalanan menuju Tasikmalaya. Sepanjang perjalanan kami saling menceritakan tentang kakek. Saat giliran nenek bercerita, ia menyebutkan tiga hal yang sangat terkenang di hatinya. 

Kenangan pertama, saat perjalanan Ciamis - Garut. Ketika itu kakek bersama salah satu anaknya yang berarti paman saya. Mereka pulang dari Ciamis menuju Garut. Saat di terminal bis Ciamis mereka sempat mampir di sebuah kedai untuk memenuhi rasa lapar. 

Sesampai di Garut, kakek teringat pada satu buah pisang raja yang dimakannya namun lupa dihitung saat membayar. Satu malam kakek tidak bisa tidur, hingga keesokanharinya ia memaksa paman untuk mengantarkannya kembali ke terminal bis Ciamis guna membayar sebuah pisang yang telah dimakannya.

Padahal bila menuruti hawa nafsu bisa saja kakek tidak kembali ke sana hanya untuk membayar sebuah pisang yang harganya tidak seberapa. Apalagi ongkos bis Garut-Ciamis saja sudah jauh lebih mahal dari sebuah pisang.

Dalam cerita nenek yang lain dikisahkan bahwa suatu hari kakek memeriksa kebun seorang diri. Sesampainya di kebun tiba-tiba kakek bersembunyi di balik pepohonan dan semak. Rupanya kakek melihat seseorang sedang mencuri batang pohon bambu miliknya. 

Ketika itu kakek pulang kembali ke rumah dan menceritakan hal itu pada nenek. Tentu saja nenek heran dan bertanya mengapa kakek malah sembunyi saat melihat seseorang mencuri di kebunnya. Mestinya 'kan pencuri yang sembunyi dari pemilik kebun. 

Kakek hanya menjawab, "Kasihan orang itu, bila ketahuan oleh kakek tentu dia akan merasa sangat malu."

Itu baru dua cerita unik tentang kakek. Masih ada satu lagi. Suatu hari kakek kedatangan seorang tetangganya yang bermaksud meminjam uang. Sayangnya, saat itu kakek sedang tidak memiliki uang sama sekali. Begitupun nenek, tak menyimpan lagi uang simpanan. 

Nenek sempat bingung sekaligus kesal saat kakek menyuruhnya untuk meminjam pada tetangga yang lain demi membantu dia yang datang untuk meminjam uang. Namun, akhirnya nenek menuruti juga hingga si peminjam pun bisa bernafas lega karena keperluannya terpenuhi sudah. 

Kakek kami memang telah tiada hampir 14 tahun yang lalu. Namun, saya masih banyak belajar 
darinya hingga hari ini. Pelajaran tentang kehalusan hati, amanah dan kejujuran serta kasih 
sayang pada sesama.[] 


Emah & Aki Haji

30 Juni 2010,
Rashid Satari

~Mengenang kakek kami, H. Ahmad Basyar~

[Mulang ka Garut 2] Saat 'Indonesia' Masuk Desa

"Holleee.. naek mobil lagi..!" 

Seorang balita bersorak pada ibunya saat baru saja naik di dalam angkot berwarna coklat jurusan Cipanas-Alun-Alun. Saya yang sudah lebih dulu duduk di sana asyik mengikuti kejadian sore itu.

Dari paras muka dan penampilannya saya langsung bisa menebak bahwa mereka adalah penduduk di sekitar sini. Tidak jauh dari Garut kota. Apalagi mendengar logat atau dialek bicaranya, sangat kentara sekali bahwa mereka orang Garut asli. 

Angkot mulai berjalan pelan. Sang sopir sembari terus berteriak-teriak memanggil orang yang lewat barangkali mau naik angkotnya. 

"Mama.. mama.. nanti maen lagi ke toko Jokja ya..!" 

Sang mama nampak tersenyum mengiyakan, "Iya..iyya..".

Kejadian ini bagi saya sangat menarik. Bukan karena si anak yang sedang lucu-lucunya. Bukan pula karena mamanya yang masih terlihat muda dan cantik. Melainkan karena bahasa yang dipakai oleh mereka untuk berkomunikasi.

Beberapa kali saya menyaksikan beragam orang di kota kecil ini baik anak-anak, remaja maupun dewasa yang berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Beberapa kali pula saya merasa ingin tertawa karena dialek mereka yang masih sangat kentara dengan warna sundanya. Apalagi di banyak daerah di kabupaten Garut, terdapat beragam irama dan lagu dalam berbahasa lisan. 

Seperti anak di dalam angkot tadi misalnya. Betapa bahasa Idonesia sudah sedemikian memasyarakat, tak lagi hanya milik penduduk ibu kota. Juga tak lagi hanya berada di area-area pendidikan dan pemerintahan saja. Di dalam angkot pun, dan untuk balita pun bahasa Indonesia seakan sudah menjadi atribut wajib warga negara. 

Sayangnya, dari beberapa pengalaman yang sangat kasuistis, penerimaan bahasa Indonesia tidak seirama dengan penghayatan terhadap 'bahasa indung' yaitu bahasa Sunda. Sebagai sampel adalah anak-anak kecil yang sempat saya temui tak lagi mampu membedakan mana bahasa untuk teman sepadan dengan untuk orang tua. Mereka spontanitas berbicara kasar atau menggunakan bahasa Sunda Loma (pergaulan) terhadap orang yang lebih tua baik itu kakaknya, orang tuanya, pamannya atau neneknya. Anak-anak ini hampir bahkan tidak lagi mengenal jati dirinya sendiri. 

Gambar diambil dari sini. 


Padahal saya masih ingat pada sebuah sumber yang menyebutkan bahwa di negeri kita ini sudah sekian ratus bahasa daerah punah. Hal itu disebabkan berbagai hal salah satunya adalah efek globalisasi. Dan menurut saya juga karena efek nasionalisasi, yang salah kaprah. 

Saya sebut salah kaprah karena bagaimanapun nasionalisasi bukan berarti menyeragamkan segalanya seperti anak-anak SD yang harus berputih merah tanpa terkecuali. Seperti juga globalisasi yang bukan berarti 'membaratkan' ujung utara hingga selatan, timur hingga barat. 

Kegelisahan saya ini semakin bertambah saat menyaksikan munculnya berbagai macam lembaga pendidikan yang dengan bangga mempromosikan berbagai macam program yang sarat dengan berbagai macam program bahasa asing. Sementara dalam waktu yang sama tak ada sama sekali muatan lokal yang mendidikkan kekayaan budaya lokal, salah satunya adalah bahasa. 

Sampai saat ini saya masih meyakini bahwa bagaimanapun sakralnya bahasa nasional, ia tak lebih sebagai sebuah produk yang lahir dari bersatunya kepentingan politik kolektif beberapa pemilik kebudayaan di gugusan kepulauan nusantara. Bahasa Indonesia lahir karena latarbelakang politik seiring dengan berdirinya republik ini. Berbeda dengan bahasa Sunda atau bahasa-bahasa daerah lainnya yang jelas-jelas lahir dari keluhuran budaya masyarakat. 

Negara, akan dengan mudah runtuh. Bisa karena separatisme, disintegrasi, mosi tak percaya terhadap pusat atau lain sebagainya. Namun, seperti kebudayaan Indian yang punah seiring wafatnya penutur bahasa Eyak yang dipakai sebuah suku di Alaska Selatan, kekayaan budaya seperti bahasa Sunda akan tetap ada hingga penutur terakhirnya tiada.

"Kiri!" 

Saya spontan sedikit berteriak guna memberi tanda pada sopir ketika angkot sampai di tempat tujuan saya. Hmm.. mengapa saya tidak katakan "Kenca!" ("Kiri" dalam bahasa Sunda) saja ya?!:D []


23 Juni 2010
Rashid Satari,

[Mulang ka Garut] 'Jam Malam' di Garut

Baru saja genap satu minggu saya di Garut. Kembali ke kampung halaman tempat di mana saya dilahirkan tentu sangat menyenangkan. Selain bisa melihat kembali pematang sawah tempat dulu saya berburu belut, juga karena saya bisa kembali menikmati nilai-nilai budaya lokal yang sangat saya rindukan. 

Dalam tujuh hari di Garut, aktifitas saya keluar rumah masih bisa dihitung dengan lima jari. Dua kali mengunjungi Garut kota, satu kali menengok rumah Nenek dan sanak sodara, dan satu kali mengunjungi kompleks pesantren tempat dulu saya belajar dan mondok.

Tentu saja banyak yang berubah. Namun, yang membuat saya takjub adalah ternyata banyak juga hal-hal yang nampaknya tidak berubah. Padahal hampir genap tujuh tahun saya tak berada di kota kecil ini.

Gambar diambil dari sini.

Rekan-rekan sejawat sudah banyak yang berdomisili di luar Garut, meski memang suatu saat nanti mereka akan kembali ke kota ini. Adik-adik, anak-anak tetangga, sepupu yang dahulu sering saya pangku, kini tinggi badannya sudah menjulang jauh melampaui saya. 

Wajah kota yang dikelilingi berbagai gunung inipun sudah semakin berwarna. Seperti gadis remaja yang beranjak dewasa, Garut kelihatan semakin bersolek diri dengan warna-warni. 

Tidak seperti Jakarta yang rasanya semakin panas. Garut justru semakin sejuk bila dibandingkan ketika saya meninggalkannya tahun 2003 atau ketika saya sempat pulang sebentar di 2006. Saat status Facebook rekan-rekan saya di Cairo mengabarkan bahwa suhu di sana mencapai 45 derajat celcius, saya justru tengah menikmati sisa-sisa gerimis. 

Rasa senang saya kembali ke kota ini semakin bertambah tatkala berjumpa kembali dengan guru-guru saya di pesantren Persatuan Islam 76 Tarogong. Banyak diantara mereka yang nampak selalu muda. Hanya beberapa saja yang nampak ubannya bertambah banyak. Namun, senyum mereka, semangat mereka membuat saya serasa kembali ke tujuh tahun yang lalu. 

Kangen pada Goyobod dan Masjid Agung, dua kali saya mengunjungi Garut kota. Saat kembali pulang ke rumah di kawasan Tarogong, saya tersenyum simpul di dalam angkot. Rupanya 'jam malam' di kota ini masih saja berlaku. Adzan Maghrib bagaikan jadi komando yang telah dipatuhi seluruh penduduk kota untuk segera kembali ke peraduan masing-masing. 

Garut setelah Maghrib adalah kota yang hampir gulita. Jumlah angkot seketika menyusut, pertokoan segera tutup. Andai kota ini tetap terang itu adalah karena pantulan rembulan, cahaya lampu pijar dari beberapa rumah di pinggir jalan. Atau, cahaya lampu dari beberapa kendaraan yang mencoba nakal terhadap 'jam malam'.

Oleh karenanya, ada satu tips sederhana bila anda bermaksud singgah ke kota ini. Bila berkendaraan umum, perhitungkanlah waktu perjalanan anda saat sampai ke Garut. Upayakan sampai ke kota ini sebelum bedug Maghrib. Anda memang tak akan kesulitan kendaraan bila tiba terlalu malam. Namun, kemungkinan besar anda hanya akan menemukan ojeg atau delman yang tentu saja ongkosnya tidak lebih ekonomis dari angkot. 

Banyak hal berubah. Namun, banyak juga yang nampak sama seperti dahulu saat saya meninggalkannya. Jam malam di Garut adalah salah satunya. Saya kira positif-positif saja. Bukankah itu bisa jadi peluang yang baik agar jam istirahat masyarakat jauh lebih efektif sehingga meningkatkan produktifitas di siang hari. Atau, setidaknya bisa mengondisikan anak-anak agar tak terbiasa keluyuran malam[].


21 Juni 2010,
Rashid Satari



Reborn

Musiman. Alias angin-anginan. 

Itulah rata-rata komentar dari teman yang -sempat- membuat dan mengelola blog. Ah, saya pun begitu. Malah sempat membuat beberapa blog di berbagai penyedia layanan gratis. Kemudian, saya lupa id dan passwordnya. Atau jikapun masih ingat, saya jarang membukanya apalagi meng-updatenya. 

Kalau digambarkan secara berlebihan, blog-blog itu di dalamnya sudah berdebu dan dipenuhi sarang laba-laba di sana sini hehe. 

Tiba-tiba saya ingat pada blog ini. Terutama karena koleksi tulisan di dalamnya lumayan banyak dibanding blog saya yang lain. Selain itu, motivasi narsis jauh lebih minus dibanding aktualisasi diri. Sedang di blog yang lain biasanya sebaliknya. :D

Apalagi ternyata, fitur di dalamnya pun makin hari makin menarik dan mudah. Akhirnya, dengan sedikit polesan template gratisan dan geser-geser gadget, jadilah yang sekarang ini. 

Masih setia dengan "neokabayan". Meski bisa saja diubah dengan nama lainnya. Kenapa nama ini? Alasannya ada di salah satu coretan saya di blog ini. Minat baca? Klik di sini. 

Baiklah. Itu saja mengawali babak baru 2013. Semoga tetap semangat berbagi di sini. Tak bisa dipungkiri, kini dunia ada dua sisi: Nyata dan Maya. Media silaturahim dua-duanya. Semoga.


Salam hangat!
Bandung, 10 Januari 2013

Gambar diambil dari sini. 

Sunday, September 13, 2009

Kedaulatan Negara dan Keselamatan Warga

Oleh : Rashid Satari
Mahasiswa Universitas Al Azhar Jurusan Da'wah dan Kebudayaan Islam 

Indonesia kembali dihebohkan dengan berita penyiksaan anak bangsanya di negeri orang. Setelah TKI di Malaysia dan Arab Saudi, kini giliran para pencari ilmu di Mesir. Empat orang mahasiswa asal Indonesia digelandang ke penjara dan disiksa dengan tuduhan keterlibatan dalam gerakan Islam radikal di negara setempat. 

Karena tak terbukti, ke-empat mahasiswa kita akhirnya dibebaskan setelah melalui introgasi panjang dilengkapi dengan penyiksaan. Namun, tentu saja kita tidak bisa mentolelir tindakan aparat negara tersebut dalam memperlakukan warga kita. Maka, upaya protes, advokasi atau semacamnya harus dilakukan. 

Pemerintah Indonesia melalui Departemen Luar Negeri dan kedutaan di Cairo telah melayangkan nota protes terhadap Mesir. Patut menjadi pertanyaan tatkala nota tersebut belum juga memperoleh tanggapan dari pemerintah setempat. Karena, dalam hubungan diplomasi semestinya sudah menjadi kewajiban negara setempat untuk memberikan jaminan keamanan bagi warga asing.  

Citra Indonesia

Di tengah kancah dunia internasional, citra Indonesia masih dipandang sebelah mata. Meski, banyak hal positif yang ditorehkan Indonesia baik dalam konteks historis masa lalu maupun konteks kekinian. 

Dalam kaitannya dengan Mesir, kondisi tersebut berlaku. Mesir dan Indonesia memang memiliki latar belakang sejarah yang sangat kuat. Mesir adalah negara yang pertama kali mengakui kedulatan Indonesia. Selain itu, ada hubungan yg mengakar urat dalam kaitan transformasi intelektual. 

Namun, realita kemudian berkata lain. Sejak era Soeharto hingga Susilo Bambang Yudhoyono, kunjungan diplomasi yang dilakukan presiden-presiden RI ke Mesir tidak pernah memperoleh kunjungan balasan dari pihak pemerintahan Mesir. Ini menjadi indikasi bahwa dalam hubungan diplomasi sekalipun, Indonesia sama sekali tidak begitu diperhitungkan lagi oleh Mesir.

Kita boleh sejenak bernafas lega saat Indonesia berhasil menyelenggarakan Pemilu langsung oleh rakyat di 2004. Indonesia disanjung berbagai negara di setiap penjuru dunia tak terkecuali Mesir, sebagai negara yang bisa menjadi contoh kehidupan berdemokrasi. Meski, hal itu kemudian tercoreng kembali dengan kasus korupsi oknum anggota KPU saat itu.  

Indonesia masih belum bisa mengelak dari pencitraan sebagai bangsa yang mengidap penyakit korupsi akut, Human Development Index yang rendah hingga permasalahan ekonomi, gesekan sosial dan budaya yang rapuh.

Bahkan, julukan 'Ahsannas' (manusia terbaik) yang diberikan masyarakat Mesir kepada masyarakat Indonesia sejak kunjungan Soekarno ke negeri pyramida puluhan tahun yang lalu, kini perlahan memudar. Konflik Timor-Timur, Aceh hingga Poso nyaris mengubur citra kita sebagai bangsa yang santun dan berbudi luhur. Konflik horizontal yang berkepanjangan juga menjadi catatan merah dalam raport pemerintahan kita. 

Kedaulatan Indonesia

Kasus penistaan kemanusiaan yang menimpa warga Indonesia di luar negeri telah lama dan terus terjadi di beberapa negara. Seiring itu, penanganan secara diplomasi tentu selalu dilakukan. Termasuk dalam kasus terakhir yang terjadi di Mesir. 

Bagi Mesir, kebijakan penangkapan dan introgasi semacam ini tentu bukan hal baru. Mengingat sejak tragedi penembakan Presiden Anwar Sadat di tahun 1981, pemerintah Mesir memberlakukan Undang-Undang keadaan Darurat (Qanun Thawary) yang berimplikasi pada berlakunya asas 'praduga bersalah' dalam mekanisme hukumnya. Curigai, tangkap, introgasi. Belum ditambah dengan kekuatan intelejen Mesir yang kuat dan rapi. Kebijakan pemerintah setempat adalah hal yang tidak bisa diintervensi dan hanya mungkin diajak berkompromi tatkala terjadi kasus yang bersinggungan dengan warga asing.

Dalam kasus yang menimpa mahasiswa kita, sejatinya kekuatan total diplomacy Indonesia mampu mengimbangi kebijakan negara setempat. Sebagaimana yang dilakukan juga oleh pemerintah Rusia atau negara lainnya saat masalah serupa menimpa mahasiswanya di Mesir.

Dalam kasus lain, seperti pada konflik pulau Sipadan – Ligitan kemarin lalu yang kemudian terulang dalam kontroversi kawasan Ambalat, masalah ini bermuara pada lemahnya kedaulatan RI sebagai sebagai sebuah nation state. Jangankan oleh negara jauh, dari negara jiran/tetangga pun Indonesia kerepotan untuk membela kedaulatannya. Tak hanya itu, dunia internasional dengan sangat transparan bisa menyaksikan bagaimana Indonesia kesulitan melindungi simbol-simbol budayanya sendiri sehingga harus kecolongan hak kepemilikan 800 motif dari seni ukir perak Bali misalnya.

Betapapun, keselamatan warga Indonesia di luar negeri adalah tanggung jawab kita bersama khususnya pemerintah. Penyiksaan yang dialami empat mahasiswa Indonesia yang tengah menuntut ilmu di Universitas Al Azhar perlu segera ditangani sehingga tidak menimbulkan tekanan traumatik dan guna menghindari kejadian serupa di kemudian hari.  

Namun, selain itu hal yang tak kalah penting adalah akselerasi pembangunan kekuatan RI sebagai negara berdaulat. Dalam masalah empat mahasiswa kita di Mesir, kedaulatan dan kekuatan RI adalah hal yang sangat determinan bila nota protes kita ingin didengar dan segera direspon oleh pemerintah setempat. Dan, hal ini harus menjadi prioritas bagi pemerintah sebagai pemegang kebijakan yang akan membawa kemana bangsa ini akan diarahkan di masa mendatang. 

Regulasi melalui percepatan RUU Tipikor guna penanganan penyakit korupsi, peningkatan mutu pendidikan, kualitas kerja dan keseriusan memperkuat infrastuktur negara dengan mengoptimalkan anggaran negara tak bisa ditunda-tunda lagi baik oleh pemerintahan di jajaran legislatif maupun eksekutif. Hal ini guna memperkuat kedulatan negara baik dalam aspek kualitas kebangsaan maupun stuktur – infrastuktur dan kelengkapan negara.

Ada 4000-an mahasiswa/i Indonesia yang tengah belajar di Mesir dan juga puluhan ribu di negara-negara lainnya. Serta, ada jutaan TKI yang menyebar diberbagai negara. Bukan tidak mungkin bila Indonesia tak mampu membenahi citranya dengan memperkuat kedaulatannya di hadapan dunia internasional, maka kasus-kasus serupa akan terus terjadi. Karena, sinyalemen lemahnya kedaulatan Indonesia tidak hanya diindikasikan dengan pelanggaran batas-batas teritorial negara an sich, melainkan juga dalam wujud lemahnya jaminan keselamatan warga Indonesia yang tengah berdomisili di negara-negara lain. Wallahu a’lam bishawab.  






Friday, April 10, 2009

Anomali Pendidikan Politik

Oleh : Rashid Satari
Mahasiswa Universitas Al Azhar Cairo

Dalam UU Pemilu No. 2 tahun 2008 tentang partai politik (parpol) disebutkan berbagai fungsi dan kewajiban parpol. Satu diantaranya adalah kewajiban parpol berkenaan dengan pelaksanaan pendidikan politik bagi masyarakat.

Pendidikan politik adalah proses pembelajaran dan pemahaman tentang hak, kewajiban, dan tanggung jawab setiap warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara [Bab I Pasal 1 ayat 4]. Hal ini menjadi penting mengingat vitalnya wawasan dan partisipasi masyarakat dalam proses demokratisasi dan pemilu di tanah air.

Fungsi parpol sebagai mesin dan kekuatan politik hingga saat ini sudah sangat kentara terlihat. Terutama di saat-saat menjelang pemilu seperti sekarang ini. Sayangnya, hal tersebut cenderung tidak diimbangi dengan implementasi fungsi 'pendidikan politik' secara proporsional kepada masyarakat.

Bagi masyarakat, pendidikan politik merupakan hal yang sangat strategis dibandingkan dengan aktifitas politik. Dan, aktifitas politik semestinya berpijak pada kesadaran dan wawasan yang cukup tentang perpolitikan. Sehingga, khususnya masyarakat bawah sebagai pihak yang terlibat langsung dalam proses demokrasi negeri ini tak hanya menjadi objek yang hanya ‘diatasnamakan' tanpa dicerdaskan.

Realita Politik di
GrassrootIroni. Kata itu mungkin cukup untuk menggambarkan kondisi masyarakat kita saat ini di tengah pesta demokrasi. Di saat bencana alam terjadi di berbagai tempat, masyarakat kita masih harus dibingungkan dengan proses politik yang tidak edukatif.

Kalaulah kampanye politik dikategorikan oleh parpol-parpol sebagai salah satu media pendidikan politik, maka jauh panggang dari api. Kampanye-kampanye parpol yang lebih mengeksplorasi goyangan artis dan janji-janji manis sama sekali kontradiktif dengan semangat pendidikan politik. Parahnya lagi, bencana alam seperti Situ Gintung misalnya selalu menjadi sasaran empuk untuk dijadikan arena kampanye. Kemanusiaan telah tergadai dengan kepentingan politik. Setiap parpol berkompetisi di hadapan para korban agar nampak sebagai yang paling berempati. Sementara, hal tragedi Lapindo di Porong dan Sidoarjo yang sudah memasuki tahun ketiga sama sekali sepi dari uluran tangan khususnya dari parpol. Mungkin karena yang terakhir ini momennya tidak pas dengan kepentingan politik.

Inilah yang hampir selalu terjadi setiap lima tahunan pesta demokrasi negeri kita. Berpuluh triliun APBN terkuras. Bermilyar-milyar rupiah terhambur begitu saja untuk biaya cetak bendera, kaos, spanduk, pamflet, panggung gembira hingga kampanye di jalan raya. Beribu menit yang semestinya produktif bagi masyarakat juga terbuang begitu saja karena disita oleh parade-parade politik. Bisa diprediksikan, pasca pemilu semua itu tak lebih hanya menyisakan kelelahan dan sampah di sana-sini sebagaimana pemilu-pemilu sebelumnya.

Disadari atau tidak oleh masyarakat, kelelahan masif tengah melanda mereka. Bila secara apologetik hal ini diklaim sebagai konsekwensi berdemokrasi, maka betapa mahal harga yang harus dibayar masyarakat. Kegiatan belajar-mengajar di sekolah harus 'kalah' ditelan oleh hingar bingar panggung kampanye, kepolosan pikiran anak-anak harus terkontaminasi tarian-tarian erotis, masyarakat berekonomi lemah harus terbeli dengan dua puluh ribu rupiah saja.

Kondisi-kondisi di atas bukanlah pendidikan politik. Semua hal itu tak lebih hanya pembodohan terhadap masyarakat kita sendiri. Secara langsung merupakan pembodohan terhadap masa depan bangsa ini. Tak heran, politik selalu saja terstigma sebagai aspek yang sangat kotor dalam kehidukan berbangsa dan bernegara kita. Alih-alih besarnya anggaran KPU untuk suksesi Pemilu, apatisme akan terus potensial terjadi bila ritual politik seperti di atas tak mengalami perubahan. Walhasil, pemilu mungkin tetap bergulir namun minim totalitas dan miskin kualitas.

Dalam konteks pemilu kali ini, kita bisa memetakan masyarakat di luar kalangan elitis parpol. Secara sederhana, pemetaan itu tertuju pada dua bagian masyarakat. Pertama, mereka yang mengikuti perkembangan dan kedua mereka yang tidak mengikuti perkembangan (floating mass). Massa inilah yang kemudian diperebutkan oleh parpol-parpol peserta Pemilu. Partisipasi dan kepedulian masyarakat tersebut tak akan terlalu berbeda kadarnya bila parpol-parpol tak bisa menampilkan diri secara elegan. Ujungnya hanya memunculkan peluang hasil pemilu yang tak substantif bagi perjalanan bangsa ini lima tahun ke depan.

Peran Pendidikan Parpol

Lantas bagaimana semestinya parpol mengejawantahkan kewajibannya dalam pendidikan politik bagi masyarakat? Tentu saja, banyak cara bisa dilakukan. Aktifitas parpol apapun bentuknya, baik di saat-saat Pemilu ataupun bukan, bisa menjadi efektif memberikan wawasan politik pada masyarakat.

Kampanye politik yang mengutamakan aksi empatik dan bermoral adalah salah satu sampelnya. Demikian juga dengan membuang jauh-jauh politik uang. Hingga menggelar aksi-aksi turun ke lapangan, mengadakan penyuluhan di desa-desa, memberikan penyuluhan yang sehat di sekolah-sekolah mengingat banyaknya kuantitas pemilih pemula. Dan, semua itu tentu tak hanya bisa dilakukan saat menjelang Pemilu saja sehingga memicu pretensi negatif tentang motivasi kepentingan pragmatis di baliknya.

Merujuk pada undang-undang tentang parpol, terdapat tiga orientasi pendidikan politik. Pertama, meningkatkan kesadaran hak dan kewajiban masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kedua, meningkatkan partisipasi politik dan inisiatif masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Dan ketiga, meningkatkan kemandirian, kedewasaan, dan membangun karakter bangsa dalam rangka memelihara persatuan dan kesatuan bangsa.

Diperlukan pendidikan politik yang memberikan kesadaran tentang urgensitas pemilu bagi bangsa ini. Karena, tak semua masyarakat kita mengerti akan pentingnya parpol, kampanye, pemungutan suara, money politic dan lain sebagainya. Berbagai kasus yang menjerat rakyat kecil dalam skenario politik uang di beberapa daerah adalah bukti betapa gagapnya masyarakat kita ketika berinteraksi dengan politik praktis. Dalam skala minimal, pendidikan politik penting untuk masyarakat dalam mengenal dan menyalurkan aspirasi politiknya.

Dengan pendidikan politik diharapkan lahir masyarakat yang senantiasa optimis, peduli dan kritis terhadap laju pembangunan. Karena, masih banyaknya kasus-kasus penyalahgunaan wewenang dan kejahatan pemerintahan karena didorong oleh minimnya keterlibatan langsung masyarakat dalam proses pengawasan. Dari pendidikan politik diharapkan mampu mendongkrak optimisme masyarakat di tengah fluktuasi pembangunan yang tentu tak selamanya berjalan mulus. Karena seperti pernah disinggung Eep Saefullah Fatah, selamat atau tidaknya proses demokratisasi itu tergantung para pelaku utamanya. Dan, para pelaku utama itu bukan hanya elit parpol dan pemerintah saja melainkan juga masyarakat di akar rumput.

Pasca pemilu 2004, Indonesia boleh bangga dengan gelar negara terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan India dalam hal pelaksanaan demokrasi. Sanjungan tersebut semestinya tak lantas menjadikan kita sebagai bangsa yang lupa diri, terbuai dengan apresiasi bangsa lain lantas lupa dengan kerapuhan akut yang terjadi di dalam.

Aktifitas politik yang semakin demokratis baik di tingkat daerah/lokal hingga pusat/nasional sejatinya seiring sejalan dengan kualitas kesadaran masyarakat terhadap bangsanya. Maka, pendidikan politik yang bersih dan objektif adalah keniscayaan. Wallahua’lam bishawab.  


Saturday, April 04, 2009

Potret ‘Gramatika’ Indonesia*

Oleh : Rashid SatariMahasiswa Uniersitas Al Azhar Cairo Jurusan Da'wah dan Kebudayaan Islam
Seperti kekayaan hayatinya, Indonesia adalah bangsa yang kaya raya dengan ragam budaya dan tentu saja bahasanya. Tak kurang dari 200 bahasa dan dialek daerah diidentifikasi tersebar di berbagai pelosok nusantara (Esser:1951). Catatan lain didokumentasikan Lembaga Bahasa Nasional yang mencatat 418 bahasa daerah (1972). Lebih menarik lagi The Summer Institute of Linguistic yang mempublikasikan hasil penelitiannya pada kesimpulan jumlah bahasa daerah yang mencapai 742 bahasa di nusantara [2006].

Seiring perkembangan zaman, ratusan bahasa tersebut mengalami akulturasi dan asimilasi dengan bahasa lain/asing. Bahkan dalam beberapa kasus, bahasa daerah bergesekan juga dengan bahasa nasional.

Bagi Indonesia, kekayaan bahasa ini adalah anugrah. Keberagaman bahasa sebagai perantara komunikasi, menjadi parameter kekayaan ragam warisan budaya nusantara. Sehingga tak berlebihan bila para pakar antropolinguistik berpandangan, kematian bahasa-bahasa di Indonesia akan berimbas pada kepunahan budaya.

Hal serupa terjadi juga di berbagai belahan lain di dunia. Seperti kebudayaan Indian yang punah seiring dengan wafatnya penutur terakhir bahasa Eyak yang dipakai sebuah suku di kawasan Alaska selatan. Koichiro Matsuura, Direktur UNESCO menegaskan bahwa kepunahan bahasa menyebabkan hilangnya warisan budaya khususnya warisan tradisi dan ekspresi berbicara masyarakat penuturnya seperti sajak-sajak hingga lolucon-lolucon [Republika:2009].

Kembali ke tanah air, menurut Pusat Bahasa Depdiknas terdapat sembilan bahasa yang punah di Papua dan 32 lainnya terancam punah. Sampel lain, di Maluku terdapat satu bahasa yang telah punah. Tragisnya, di kawasan lain bahasa asing justru semakin akrab dengan masyarakat seperti eksistensi bahasa Jepang di tengah-tengah komunitas anak-anak sekolah di daerah Karawang.

Pengikisan bahasa daerah oleh bahasa asing kerap terjadi di negara-negara berkembang. Hal ini disinyalir terjadi karena euforia kemajuan teknologi dan informasi di mana secara alami negara-negara maju dipandang sebagai kiblat peradaban. Sehingga, apa yang menjadi pola hidup, gaya berkomunikasi dan lain sebagainya dijadikan standarisasi kemajuan.
Apalagi kenyataan menunjukan bahwa bahasa-bahasa negara maju seperti bahasa yang dipergunakan di Amerika, Eropa, dan beberapa negara di Asia seperti Jepang saat ini menjadi standar kualifikasi bagi karir pekerjaan.

Walhasil, penduduk di kawasan negara berkembang merasa lebih berharga bila memiliki kecakapan berbahasa Inggris, Perancis, Jepang atau Jerman misalnya. Pada titik yang lebih ekstrim lagi, penggunaan bahasa daerah di pandang sebagai simbol ketertinggalan atau primitifisme.

Tekanan yang terjadi terhadap bahasa daerah di Indonesia tak cukup sampai sana. Para pemerhati bahasa dan budaya nusantara menilai bahwa keberadaan bahasa Indonesia memiliki andil besar dalam kepunahan bahasa daerah. Masyarakat di kawasan perkotaan cenderung memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa pergaulan daripada bahasa lokal. Meskipun dalam banyak kasus, penggunaan bahasa Indonesia tersebut jauh dari kaidah-kaidah yang benar.

Terdapat tarik menarik antara idealisme menegakan bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa, dengan bahasa daerah sebagai instrumen identitas kebangsaan serta perkembangan era globalisasi.

Depdiknas memandang RUU Kebahasaan tahun 2007 mendesak adanya. Hal ini setelah mempertimbangkan derasnya arus globalisasi yang menggerus nasib bahasa nasional dan tentu saja bahasa-bahasa lokal. Dominasi bahasa asing sebagai bagian penting dari globalisasi telah meninggalkan bopeng-bopeng pada kualitas warga negara dalam berbahasa Indonesia. Penyerapan bahasa sudah membahayakan batas toleransi berbahasa. Maka, aturan main kebahasaan dirasa mendesak untuk diberlakukan. Konsekwensinya adalah kewajiban penggunaan bahasa Indonesia di berbagai intansi, lembaga pemerintahan, lapangan pekerjaan. Bahkan tenaga ahli asing diharuskan menguasai bahasa Indonesia bila ingin bekerja di negeri ini.

Namun, rupanya RUU yang dimaksudkan sebagai penerjemahan dari UUD pasal 36 dan ini juga menyimpan resiko. Bahasa daerah semakin tak memperoleh tempat di tengah masyarakat kita. Padahal bahasa Indonesia sendiri adalah akumulasi dari penghayatan pemuda-pemudi kita terhadap kekayaan budaya lokal dan penghayatan terhadap arti penting kebersatuan. Hal ini termanifestasikan pada momen 28 Oktober 1928.

Pada saat yang sama, Prof. Dr. Arief Rahman mencatat satu dari 50 bahasa di Kalimantan tak lagi digunakan. Di Sumatera, dua dari 13 bahasa mengalagi kritis dan satu punah. Di Sulawesi satu dari 110 bahasa telah punah dan 36 lainnya dalam kondisi kritis. Di Timor, Flores dan Sumba 50 bahasa masih bertahan dan 8 diantaranya terancam. Adapun di Jawa, hasil penelitian STISI Bandung di Bogor menunjukan bahwa sejak 1991 bahasa asli hampir sudah tidak bisa ditemukan [Najmudin Ansorullah:2007].

Wajar bila pemerintah berkepentingan untuk membangun sistem imunitas bagi kekayaan bahasa Indonesia. Namun, tentu saja penyusunan aturan main berbahasa ini sejatinya tak hanya melawan serangan bahasa luar. Melainkan juga menjadi payung hukum bagi kekayaan bahasa nasional sekaligus juga bahasa daerah.

Jepang mungkin satu di antara bangsa yang sangat langka. Ia mampu menyerap kemajuan peradaban Eropa tanpa mengorbankan bahasanya. Terbukti, bahasa Jepang dengan hurup Kanji-nya kini menjadi salah satu alat komunikasi kontemporer.

Bahasa adalah cermin jati diri dan kekayaan budaya. Dan, perubahan dalam sebuah masyarakat adalah keniscayaan. Evolusi bahasa dan budaya tentu tak bisa terhindarkan. Apalagi dikaitkan dengan konteks dunia saat ini yang hampir tanpa sekat. Maka, keluhuran budaya yang di miliki Indonesia akan selalu berbanding lurus dengan penghayatan masyarakat terhadap bahasanya. Karena, transformasi budaya berlangsung melalui perantara kebahasaan.

Bagi bahasa Indonesia, proteksi dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari perlindungan hukum hingga implementasi pendidikan kebahasaan di sekolah-sekolah. Sedangkan bagi bahasa daerah, proteksi nampak dilakukan dengan memaksimalkan otoritas pemda melalui Otda. Kebijakan pengajaran bahasa daerah dilakukan melalui kebijakan muatan lokal yang masing-masing daerah tentu berbeda satu sama lain. Baru-baru ini kebijakan Depdiknas terhadap lingkungan sekolah di Jabar kawasan priangan dengan kawasan lingkar ibu kota (Bogor, Depok dan sekitarnya) mengalami penyesuaian kembali. Bahasa Sunda tidak serta merta dijadikan muatan lokal di daerah Bogor dan Depok misalnya, karena kedua kota ini secara kultur lebih dekat pada kultur Betawi.

Bahasa Indonesia sendiri terbangun dari proses penyerapan bahasa yang berlangsung lama. Berawal dari bahasa Melayu Riau yang menjadi lingua franca sejak abad 13 silam. Selain itu, terdapat ribuan sampel serapan bahasa antara bahasa Indonesia dengan bahasa luar. Dalam catatan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa pada tahun 1996, serapan dari bahasa Belanda sebanyak 3.280 kata, Inggris 1.610 kata, Arab 1.495 kata, Sanskerta - Jawa Kuno 677 kata, Cina 290 kata, Portugis 131 kata, Tamil 83 kata, Parsi 63 kata dan Hindi 7 kata. Catatan ini tentu akan terus bertambah seiring perkembangan masyarakat dan teknologi informasi-komunikasi.

Perlindungan terhadap bahasa Indonesia juga bahasa dearah tentu bukan berarti sikap apriori terhadap perkembangan bahasa asing. Perlu kebijakan yang berimbang untuk itu. Karena bahasa adalah penopang budaya dan jati diri bangsa. Wallahua’lam.
*) Pada rubrik Bahasa, Buletin MAKAR milik Rumah Budaya ‘Akar’ Cairo, edisi April 2009.

Saat Mahasiswa Berpolitik*

Oleh : Rashid SatariMahasiswa Universitas Al Azhar Cairo jurusan Da’wah dan Kebudayaan Islam
Sejarah telah mendefinisikan mahasiswa. Tak hanya sebagai insan akademis yang beraktifitas di dalam kampus, melainkan juga pro aktif merespon dinamika kehidupan sosial dan politik masyarakat. Inisiatif Sumpah Pemuda Oktober 1928 yang kemudian berbuah proklamasi 1945. Atau gerakan '66 yang berbuah revolusi dari orde lama ke orde baru. Serta yang terakhir adalah aksi angkatan 1998 yang mengubah wajah sejarah Indonesia dengan gelora reformasi. Mahasiswa tak hanya identik dengan kampus dan buku, tapi juga dengan kritisme dalam pikiran dan tindakan.

Mahasiswa dan politik praktis merupakan terma yang seringkali dipandang sebagai dua entitas yang saling berbenturan. Wajar, mahasiswa adalah masyarakat terdidik yang dibiasakan untuk berpikir dan bertindak atas nama tanggungjawab ilmiah dan kepentingan kemanusiaan yang universal. Sedangkan politik praktis adalah terma yang sangat berkait kelindan dengan perebutan kekuasaan, gesekan antar golongan bahkan kepentingan-kepentingan pragmatis.

Mari kembali sejenak menengok sejarah. Karena kebijakan Demokrasi Terpimpin-nya di sekitar tahun 1960-an, revolusi meletus di bawah lokomatif mahasiswa. Dan, Soekarno pun ‘tumbang’. Namun, idealisme mahasiswa kala itu kemudian terbuai dalam hubungan mesra dengan kekuasaan Soeharto yang diyakini sebagai pembawa perubahan. Kenyataan berbicara lain. Soeharto tak ubahnya tiran baru yang dengan kekuatannya mengendalikan republik dengan tangan besi. Hal itu nampak pada kasus Papera Papua di 1969 dan fusi partai-partai politik pada 1975.

Untungnya, tak semua mahasiswa tenggelam dalam kemesraan bersama orde baru. Arif Budiman (Soe Hok Jin), kakak kandung Soe Hok Gie, adalah tipologi mahasiswa kritis yang kemudian lantang kembali meneriakkan ketidaksetujuannya dengan kebijakan kontraproduktif pemerintah. Di 1971, ia menggalang kekuatan moral mahasiswa bersama masyarakat dalam bentuk gerakan Golongan Putih (Golput) pertama pada Pemilu di tahun itu sebagai sikap protes pada pemerintah.

Rentang sejarah juga kembali mengungkapkan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan dan pengawal dinamika kehidupan bangsa. Bagi sebuah kekuasaan tiran, mahasiswa adalah ‘musuh’ yang sangat disegani. Kebijakaan Orba melalui aturan Mendiknas Daoed Joesoef tentang NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan) di tahun 1980-an memandulkan gerakan mahasiswa. Mahasiswa dipaksa untuk terjebak pada sekat-sekat spesialisasi keilmuan dan gagap budaya berorganisasi dan perpolitikan ‘mikro’di dalam kampus. Sehingga dengan sendirinya, mahasiswa termarjinal dari rasa peka terhadap proses pembangunan. NKK/BKK hampir membius mahasiswa menjadi robot yang hanya dicetak untuk pintar, namun tidak mengerti permasalahan sosial politik.

Daya kritis, keberanian, keberpihakan pada kebenaran dan kepentingan rakyat banyak adalah identitas dari mahasiswa. Oleh karenanya, dalam dinamika politik, mahasiswa memiliki prioritas untuk bersikap sebagai outsider atau pihak yang berdiri di luar sistem stuktural. Hal ini penting mengingat peran strategis mahasiswa sebagai pihak yang selalu berbicara atas nama kepentingan bersama, bukan atas nama ‘bendera politik’ tertentu, dan menengahi antar elemen-elemen bangsa yang terfaksionalisasi.

 Tidak berpolitik praktis bukan berarti buta politik. Mahasiswa diharapkan menjadi garda depan dalam gerakan politik nilai (value political movement) ketimbang gerakan politik kekuasaan (power political movement). Karena, politik kekuasaan atau politik praktis adalah kawasan di mana praktik gesekan antar golongan dengan alasan kepentingan yang pada titik tertentu semakin irrasional.

Ini tidak lantas diartikan bahwa mahasiswa terpolarisasi dari politik. Karena sebagai pribadi, setiap mahasiswa memiliki hak menyalurkan partisipasi politik. Bagaimanapun, mahasiswa telah lebih dulu memiliki kewajiban pertamanya sebagai insan akademis. Di luar itu, kepekaan wawasan dan daya kritis terhadap dinamika bangsa dan perkembangan politik telah menjadi kenyataan sejarah bagi mahasiswa. Dan, menjadi kemestian.

Adalah prematur bila mahasiswa serta merta memasuki kawasan politik praktis sebelum terlebih dahulu menghayati peran utamanya tersebut. Maka, politik mahasiswa adalah kritisme objektif, strategi pembelaan terhadap kepentingan dan pencerdasan masyarakat, perlawanan terhadap kebodohan, tirani dan dominasi. Politik mahasiswa adalah saat mahasiswa berbicara demi kebaikan ‘kita’, bukan ‘kami’, ‘mereka’, ‘saya’ atau ‘anda’. Wallahu a’lam bishawab.
 
*) Pada rubrik Opini Buletin Akademika di Cairo edisi Maret 2009 




Islam Politik dan Bingkai Demokrasi*

Oleh : Rashid SatariMahasiswa Universitas Al Azhar Cairo Jurusan Da’wah dan Kebudayaan Islam
Adalah Moehamad Hatta, pada dekade 1966-1967 mendirikan PDII (Partai Demokrasi Islam Indonesia). Dilatarbelakangi idealisme universalitas Islam yang mencakup ranah sakral dan profan sekaligus, dari amal ibadah keagamaan, kerja sosial, kemanusiaan hingga politik ketatanegaraan. Di saat Soekarno hanyut kekuasaan dengan pembelaannya pada Nasakom hingga kebijakan pembubaran Masyumi dan PSI, Hatta dan PDII-nya berdiri diametral terhadap mainstream politik kala itu.

Konon, nilai-nilai demokrasi perlahan berekuivalen di tengah masyarakat muslim. Inilah yang nampak pada dinamika perpolitikan Indonesia. Kran demokrasi yang terbuka lebar menjanjikan liberalisasi dalam segala aspek kehidupan. Pemilu 1955 sebagai pesta demokrasi pertama republik ini terbilang sukses untuk ukuran negara baru. Antusiasme masyarakat nampak dari hadirnya beragam partai peserta pemilu. Mulai dari kalangan sipil agamis (Partai Masyumi dan NU), nasionalis (PNI), sosialis (PSI) hingga komunis (PKI). Geliat Islam politik telah terlihat sejak usia republik ini masih seumur jagung.

Meski keberagaman partai ini sempat dikebiri Demokrasi Terpimpin ala Orde Lama, namun kehadiran PDII seperti disinggung di awal telah menegaskan aspirasi umat Islam dalam berdemokrasi tak pernah padam. Apalagi bila kemudian kita pertemukan dengan momen reformasi 1998. Politik otoriter yang dipenetrasikan Orde Baru pun tak sanggup memendung arus grassroot. Alih-alih membangun jaring kekuasaan, apa yang dilakukan Orba hanya menanamkan bom waktu yang akhirnya meledak cepat.

Reformasi telah membongkar kran demokrasi yang tersendat dalam beberapa dekade. Pemilu 1999 disusul kemudian dengan Pemilu 2004 menjadi saksi pastisipasi umat Islam dalam berdemokrasi untuk membangun Indonesia. Akan tetapi muncul kemudian kegelisahan masif di tengah-tengah muslim tanah air saat disorientasi tercium dari arena perpolitikan tanah air. Parpol-parpol Islam tak lagi diyakini sebagai representasi 89% penduduk Indonesia. Bahkan, tak jarang partai Islam dicurigai justru tak lebih dari sekedar kendaraan yang mengeksploitasi konstituen muslim. Parpol Islam hanya dibedakan dalam nama dan bendera saja dari parpol jenis lainnya.

Kegelisahan tersebut wajar adanya. Para petinggi partai Islam seperti Yusril Ihza Mahendra dan Amin Rais misalnya selalu beralibi tentang heterogenitas parpol Islam sebagai parameter kesehatan berdemokrasi. Perbedaan bendera tak menjadi sekat ukhuwah dan perjuangan. Sejatinya, hal tersebut tak hanya sebatas platform belaka, terlebih bagi para politisi muslim. Namun, idealita tersebut nampak sebagai menara gading yang tak pernah sanggup digapai sejak dahulu. Sejak 1955 hingga 2004 kita dihadapkan pada realita yang ironis dan menyakitkan: parpol Islam tak pernah menang!

Apologi para politisi muslim dilanjutkan dengan pemaknaan yang terkesan dipaksakan atas gaung persatuan Islam yang sejak lama diteriakan tokoh-tokoh pergerakan Islam internasional. Pan Islamisme gagasan Al Afghani ditafsirkan dengan keberagaman parpol yang berpegang erat pada semangat ukhuwah Islamiyyah. Suatu pemaknaan yang dilegitimasi sebagai modernisasi dari pemaknaan klasik tentang kebersatuan umat Islam. Poin ini memperoleh tempatnya dalam Kongres Umat Islam (1998) yang mendeklarasikan bahwa pluralitas parpol Islam adalah sunnatullah. Menarik. Meminjam kalimat Hajriyanto Y. Thohari, “Sunatullah dahulu berarti satu, kini seribu”.

Teori tak selalu selaras dengan aplikasi. Imunitas NU terhadap godaan democracy syndrome justru melemah dan terbelah pada beragam parpol: PKB, PKU, PNU, Partai SUNI dan kini hadir PKNU. Masyumi yang gegap gempita secara gemilang sebagai simbol pemersatu gerakan reformis Islam kemudian tercabik menjadi PBB, Masyumi, Masyumi Baru, PUI, Partai Keadilan (kini PKS), dan lain sebagainya. Muhammadiyah pun tak lolos dari kubangan euforia demokrasi, muncul PMB yang konon sebagai wujud aspirasi yang tak terapresiasi di PAN. Partai-nya H.O.S Tjokroaminoto, PSII yang tersohor sebagai partai mini dengan value maxi, harus rela terhempas menjadi dua. Kebesaran Masyumi, ketokohan H.O.S Tjokroaminoto dan wawasan ke-Islaman para tokoh gerakan reformis Islam kontemporer tak mampu menghindarkan umat dari faksionalisme.

Tak berbeda dengan rangkaian pemilu yang lalu, di pemilu 2009 parpol-parpol Islam baik itu para pemain lama maupun wajah-wajah baru, kembali akan diuji konsistensinya. Konsistensi ini terkait pertanggungjawabannya atas asas Islam yang disandang, atas pembelaan pada konstituen Muslim yang direpresentasikan, maupun atas kepentingan bangsa yang diperjuangkan. Konsistensi ini akan sangat dan selalu bergesekan keras bahkan terpolarisasi dengan lalu lintas politik praktis yang masih tidak sehat. Dari politik uang, black campaign, kampanye negatif hingga pragmatisme yang paling kompromistis dan legal : koalisi lintas batas. Pada titik ini slogan “tak ada kawan atau lawan yang abadi” masih sangat relevan.

Ada yang baru bergema di jelang pemilu 2009. Anis Matta berpendapat bahwa era politik aliran telah kadaluarsa. Testimoninya ini tak sekedar kata, melainkan tampak secara transparan pada manuver-manuver politik yang dilakukan partainya. PKS kini dan sejak dari beberapa waktu ke belakang menjadi lebih inklusif. Konon, dengan dalih kreatifitas berkampanye dan strategi pemenangan Pemilu, partai ini “berani” berstatemen bahwa dalam kacamata politik praktis saat ini, isu syariat Islam sudah “tak laku” lagi.

Perubahan paradigma berpolitik tak hanya mengemuka di antara parpol-parpol Islam. Parpol-parpol nasionalis hingga sekuler pun terjangkit gejala yang sama. Tengok misalnya wacana “penghijauan” yang hangat di tubuh Golkar. Atau, seperti PDI yang “mendekat” pada masyarakat muslim dengan organisasi sayap Baitul Muslimin Indonesia-nya. Secara historis ini tidaklah asing, bukankah saat mendirikan PDII Hatta adalah seorang nasionalis?

Dalam bingkai demokrasi, semua mungkin saja terjadi. Kecenderungan parpol-parpol untuk lebih membuka diri dan berkonsiliasi dengan pihak luar adalah indikasi yang patut diapresiasi. Karena hal itu mempermudah peluang dinamika demokratisasi yang lebih baik dalam rangka gerak pembangunan bangsa Indonesia. Barangkali ini langkah awal dari interpretasi atas politik substantif di mana nilai Islam adalah panglima dan bendera adalah aksesori. Karena, bila inklusifisme parpol Islam hanya didorong pragmatisme buta, maka seperti apa yang mendiang Cak Nur bilang, “Islam yes, partai Islam No!” akan literal adanya. Wallahu alam bishawab.
   
*) Pada Buletin Afkar PCI-NU Mesir edisi Maret 2009 

Saturday, January 17, 2009

Parade Kepentingan di Balik Gaza


Oleh : Rashid Satari
Mahasiswa Universitas Al Azhar Cairo Jurusan Da’wah dan Kebudayaan Islam

Konflik Israel dan Palestina tak lagi bermotif ideologi semata. Sejak Mei 1948 di mana Israel mendeklarasikan dirinya sebagai negara baru, konflik berkepanjangan terus berlangsung. Di mulai dengan perebutan kawasan yang berbuah pendudukan Jarussalem oleh Israel. Hingga, kini Israel berhasil memecah belah Palestina.
Dalam kurun waktu perjalanan konflik Israel - Palestina, berbagai kepentingan bermunculan sudah. Tak lagi hanya Israel yang berkepentingan. Namun, suramnya nasib Palestina dipengaruhi juga berbagai kepentingan pihak-pihak lain tak terkecuali negara-negara Arab.

Konflik Gaza yang tak berkesudahan sejak 27 Desember 2008 lalu adalah indikasi poin di atas. Konflik ini tak terhentikan meski korban tewas telah mencapai angka 1100 jiwa dan korban luka mencapai angka 4000 orang. Artinya, tentu tidak bisa disimpulkan begitu saja bahwa ini hanya konflik dua pihak semata. Sebab bila begitu, dunia internasional dengan PBB sebagai representasinya bisa mudah menengahi dan mengakhiri.

Berbagai Kepentingan

Telah diketahui bersama bahwa sejak 60 tahun lalu Israel mendambakan berdirinya negara Israel Raya. Kawasan yang membentang dari sungai Eufrat hingga sungai Nil yang berarti mencakup Irak hingga Mesir.

Dalam perkembangannya, kepentingan Israel tak hanya itu. Israel tak hentinya berkonflik dengan berbagai negara dengan beragam kepentingan mulai ekonomi hingga politik. Itu pula yang terjadi saat ini di mana konflik di Gaza semakin tak terkendali.

Partai Kaduma sebagai penguasa Israel saat ini tercoreng oleh skandal korupsi Ehud Olmert. Menjelang pemilu Israel di Februari 2009, pimpinan partai Kaduma Lipzi Livni bersikeras memperbaiki citra dengan memaksimalkan posisi strategisnya saat ini sebagai Menteri Luar Negeri Israel. Livni sendiri ternyata mendambakan posisi Perdana Menteri di pemilu mendatang. Bahu-membahu dengan kabinetnya, trio Livni, Olmert dan Barak memborbardir Hamas dengan dalih membela warganya di Israel Selatan.

Aksi militer ini memang sempat membuahkan hasil dengan meningkatnya pamor partai Kaduma di mata warga Israel. Meski pada kenyataanya dari 81 persen yang mengamini tindakan militer Israel di Gaza, hanya 30 persen yang percaya bahwa aksi ini akan berhasil.

Di Mesir, kepentingan pun sangat kental mewarnai kebijakan luar negeri atas konflik Gaza. Presiden Mesir, Hosni Mubarak memperoleh berbagai kecaman atas sikap kooperatifnya terhadap Israel. Ini terlihat dari kunjungan Olmert ke Cairo dan pernyataan Mobarak bahwa Raffah akan dibuka hanya dengan restu Israel.  
Usut punya usut, rupanya ini disinyalir terkait dengan pemerintahan status qou yang sedang menjadi wacana hangat dalam dinamika perpolitikan Mesir. Mobarak menghendaki putranya yang juga pimpinan partainya, Partai Nasional Demokrat, Jamal Mobarak sebagai penggantinya. Mobarak butuh dukungan penuh untuk itu. Dan, Israel adalah salah satu pihak yang tepat.
Di Washington, Barack Obama yang dipinta suaranya oleh dunia internasional tentang Gaza masih juga bungkam. Tak aneh, Amerika yang masih dipimpin Bush merupakan pendukung utama Israel. Amerika pula yang mematahkan draft resolusi PBB yang ditawarkan Lybia. Diam-diam Obama pun menunjukan dukungannya pada Israel. Terlebih karena itu adalah salah satu poin janji Obama dalam kampanye politiknya tempo hari. Sejarah bersaksi, sokongan Israel selalu berada di balik kesuksesan seseorang untuk menjadi presiden negeri Paman Sam.

Bagaimana dengan organisasi-organisasi internasional? Beberapa pengamat menilai tak ada yang bisa diharapkan dari organisasi-organisasi seperti PBB, Liga Arab bahkan OKI sekalipun. Seperti diucapkan Miguel d'Escoto (Presiden Majelis Umum PBB) bahwa selain dikotori oleh kepentingan-kepentingan pribadi, kebijakan setiap organisasi ini tak terlepas dari kepentingan-kepentingan lokal setiap negara anggotanya. PBB tak menghasilkan apa-apa dari sidangnya. Liga Arab pun demikian, hanya bisa menyelenggarakan pertemuan informal belaka. OKI sementara ini hanya bisa mengecam saja.

Masa Depan Konflik Gaza

Membaca relita di atas, nampaknya masa depan perdamaian di Gaza semakin suram. Konfrontasi semakin tajam pasca dimulainya serangan darat oleh Israel. Hamas-pun semakin kencang melawan. Bahkan, perkembangan terakhir menunjukan faksi Fatah mulai menunjukan simpati pada perlawanan Hamas.

Upaya damaipun akan semakin jauh mengingat Israel yang tetap bersikukuh untuk melakukan tindakan offensiv dan dunia internasional yang tak punya kekuatan untuk menghentikan perang bahkan untuk sekedar memediasi perundingan sekalipun.

Kekerasan perang hanya akan melahirkan kekerasan perlawanan. Ada berbagai kemungkinan yang bisa terjadi bila kondisi di atas terus terjadi. Peperangan semakin tak terprediksi kapan berakhir dengan korban sipil yang semakin besar. Selain itu, gelombang simpati pada Gaza dan kekecewaan pada lembaga internasional akan mengundang tindakan-tindakan perlawanan yang tak terkendalikan di berbagai tempat. Kasus penembakan dua warga Israel di Denmark adalah satu sampel kecil. Tak heran, Nir Rosen seorang jurnalis Libanon memperkirakan bahwa konflik Gaza akan menimbulkan aksi-aksi yang diklaim Israel sebagai "terorisme" baru di berbagai belahan dunia.