Friday, February 08, 2013

[#Egyptology] Cerita dari Sinai


Berada 2.600 meter di atas permukaan laut (mdpl), St. Catherine atau dikenal juga dengan gunung Sinai, berdiri kokoh menjulang di bagian barat Mesir. 

Gambar diambil dari sini.
Kami berdelapan berangkat ke sana dengan mengendarai sebuah Avanza merah marun. Saya, Irfan, Risyan, Maher, Amran, Farid, Syarief dan Imazahra. Kami berangkat sekitar pukul 09.00 pagi kendaraan bertolak dari rumah saya.

Sebelum menuju Sinai sebagai tujuan utama, rencananya ada beberapa tempat yang akan kami singgahi. Pertama, Terusan Suez sekaligus penyebrangan/jembatan bawah airnya. Kedua, Benteng Berlief yaitu benteng peninggalan Israel saat perang perebutan gurun Sinai berkecamuk antara Israel dengan Mesir. Tempat selanjutnya adalah ‘Uyun Musa atau mata air Nabi Musa. Di tempat terakhir ini kami sempat menikmati tenggelamnya matahari di ujung hamparan pasir yang bertemu dengan langit di garis cakrawala.

Lama perjalanan dari Kairo menuju Sinai sendiri sekitar 13 jam. Kami sampai di kaki gunung Sinai pada pukul 01.00 dini hari pada hari berikutnya. Suhu udara di kaki gunung Sinai berkisar di angka 15 derajat celcius. Cukup dingin apalagi suhu di siang hari cukup panas sehingga kami merasakan perubahan yang cukup ekstrim. Di atas sana suhu tentu lebih dingin lagi. Namun, kedinginan itu akan terobati saat kami melakukan pendakian. Karena, medan pendakian cukup sulit. Rutenya adalah tanjakan hingga ke puncak. Turunan baru akan kami temui saat perjalanan kembali ke kaki gunung.

Sebelum pendakian dimulai, kami harus melalui pemeriksaan di pos keamanan di kaki gunung. Lokasinya tidak jauh dari cafetaria, kios-kios cinderamata dan toilet umum. Tempat-tempat itu mengelilingi area kosong yang cukup luas di mana kami memarkirkan kendaraan bersampingan dengan kendaraan lain termasuk bis dan minibus.

“Anda bersama teman-teman anda harus ditemani seorang guide”. Ujar seorang petugas kepada Amran.

Sudah dua atau tiga tahun terakhir ini setiap turis atau satu rombongan turis yang hendak mendaki Sinai diharuskan memiliki pemandu yang disediakan di pintu masuk area ini. Tujuannya adalah selain demi keselamatan para turis, juga untuk membuka lapangan kerja untuk penduduk setempat. Tarif seorang pemandu untuk mendaki dan kembali adalah EGP 100.

Namun, kami yang merasa sudah lama tinggal di Mesir dan beberapa diantara kami sudah ada yang pernah mendaki gunung ini, kami coba melobi petugas agar kami bisa mendaki tanpa guide. Hal ini sudah kami sepakati sejak dalam perjalanan.

Amran nampak berdiskusi dengan petugas di dalam pos penjagaan. Tak lama, ia dan seorang petugas berjalan menuju kami yang menunggu di luar pos. 

“Kalian mahasiswa Al Azhar?”

“Aiwah! Ya!” kompak kami menjawab.

“Kalau begitu, kalian hafal Al Quran ya?!” ia bertanya.

Saya langsung teringat perkataan Grand Syaikh Al Azhar, Prof. Dr. Mohammad Sayyed Thantawy (Alm.) di sebuah acara lokakarya, “Laisa minal Azhariyyin man lam yahfadz Al Quran.” Siapa yang tidak hafal Al Quran, maka dia bukanlah seorang anak Al Azhar.

Mendengar pertanyaan itu kami semua tersenyum-senyum. Karena, kami tahu kami tidaklah hafal seluruh isi ayat Al Quran, melainkan hanya beberapa juz saja. 


“Ya.. kami hanya hafal sedikit saja.” Salah seorang dari kami menyambut pertanyaannya.

“Hehe.. begitu ya?! Baiklah, silakan kalian berangkat tanpa pemandu. Namun, berhati-hatilah. Kalian ikuti saja rombongan turis Eropa ini.” Ujarnya sembari melirikkan mata kepada rombongan turis Eropa yang tengah berkerumun tak jauh dari kami.

“Mereka berangkat dengan seorang pemandu. Ikuti saja mereka supaya kalian tidak tersesat.” Ia menambahkan.

Kontan saja kami sangat berterima kasih pada petugas itu. Kami tidak menyangka semudah itu ia bisa mengabulkan permintaan kami. Maklumlah, saat di Kairo kami memperoleh informasi bahwa sangat sulit melobi petugas di sana untuk bisa mendaki tanpa pemandu. Walhasil, kami bisa berhemat EGP 100. Angka yang sangat lumayan untuk sarapan esok hari.

Pendakian pun dimulai. Suasana sangat gelap ketika itu. Bulan nampak malu-malu menampakkan dirinya. Ia nampak hanya mengintip saja dari kejauhan. Untungnya, bintang-bintang berserakan seperti perca yang bertaburan di atas permadani hitam. Beberapa kali rasa lelah kami terhibur dengan bintang jatuh.

Buat saya yang pernah mendaki sebelumnya, rute pendakian ini tidaklah asing. Batu-batu besar dan kecil, jalan yang tidak rata dan cenderung menanjak, sampai unta-unta yang tiba-tiba saja muncul di kegelapan. Tidak heran, beberapa rekan yang pertama kali mendaki di gunung ini sulit sekali menghindari batu sandungan dan kesulitan lainnya. Apalagi kami hanya mengandalkan cahaya pada dua senter kecil.

Jarak pandang kami hanya 2 meteran saja. Oleh karenanya, beberapa kali kami merasakan ketegangan saat kami tertinggal oleh rombongan turis di depan kami. Mau tak mau kami harus menunggu rombongan turis berikutnya. Mereka berjalan cepat sekali.


Maher yang bertubuh paling tambun diantara kami nampak kelelahan. Tapi, rupanya ia tidak mau menyerah begitu saja.

“Kita beristirahat saja beberapa menit di pos peristirahatan.” Salah seorang diantara kami berteriak dari arah belakang.

“Ok!” Kami yang berjalan di depan mengiyakan.

Saya sendiri agak ragu untuk mengiyakan. Saya khawatir waktu yang kami pakai untuk beristirahat bisa menyita waktu yang menyebabkan kami kesiangan sampai di puncak nanti.

Tentu tidak lucu bila kami tiba di puncak saat sunrise telah berlangsung. Karena detik-detik sunrise adalah target utama pendakian ini. Bulat dan hangatnya matahari saat terbit akan melunasi rasa lelah kami di sepanjang jalur pendakian.

Akan tetapi, keraguan saya harus mengalah karena kami nyatanya memang perlu sejenak beristirahat. Di pos peristirahatan, Maher sempat terkantuk-kantuk, Ima mengalami sakit otot kaki, Farid mengotak-atik lensa kamera demi mengabadikan bintang jatuh. Risyan sibuk dengan senter mininya sedangkan yang lain duduk mengatur nafas untuk perjalanan selanjutnya.

Perjalanan menuju pos ini tidak begitu sulit karena kami mengikuti jalur yang agak mudah kami jangkau dengan pandangan mata. Tidak jauh dari tempat kami duduk, serombongan turis Eropa yang telah lebih dulu sampai nampak melakukan hal yang tak jauh beda dengan kami. Mereka memanfaatkan waktu yang sempit untuk memulihkan tenaga. Sesekali beberapa onta bersama pengendalinya lewat di tempat itu.

Pos peristirahatan ini berupa gubuk kayu di tanah yang relatif datar, dengan halaman agak lebih luas dibandingkan lebar jalur pendakian. Gubuk itu ditunggui oleh seorang penjaga yang sekaligus menjajakan jajanan seperti roti, biskuit, coklat dan soft drink. Tentu saja harganya beberapa kali lipat dari harga normal nun jauh di bawah sana.


Ada 6 pos peristirahatan yang kami lalui sebelum mencapai puncak. Setelah pos terakhir, medan pendakian semakin curam menanjak berbentuk tangga-tangga batu. Hal yang sangat terasa dalam pendakian ini adalah letihnya otot paha, lutut dan betis. Bagi yang belum terbiasa, serangan kram otot sangat mungkin terjadi.

Sekitar pukul 04.00 dini hari kami berhasil mencapai puncak. Suasana masih sangat gelap. Namun, sudah banyak orang di sana yang berbaring sambil berselimut tebal menanti munculnya sunrise. Beberapa pasang turis nampak berpelukan di beberapa pojok bongkahan batu.

Ada satu gereja dan mushala kecil di puncak ini. Kami sangat bersyukur ruangan mushala yang hangat ternyata kosong karena kebanyakan turis yang ada di sana adalah non-muslim. Kamipun segera menghangatkan diri di sana sekaligus menunaikan shalat subuh.

“Hey! What are you doing here?!” Tiba-tiba saja seorang pribumi muncul di pintu mushala.

“Are you Moslem?” susulnya tanpa menunggu jawaban atas pertanyaan pertamanya.

“Ya. Kami adalah muslim dan kami hendak melaksanakan shalat subuh di tempat ini.” Jawab salah seorang dari kami.

Nada bicara orang Mesir itu langsung menurun, lalu dia mempersilahkan kami. Rupanya ia adalah penjaga tempat ini yang bertugas merawat mushala. Seorang penduduk asli daerah sini. Pantas saja dialek bicaranya sedikit berbeda dengan mereka yang tinggal di Kairo.

Selepas shalat subuh berjamaah, kami segera menuju keluar dan mencari tempat yang pas untuk mendapatkan sudut pandang yang asyik saat mengambil gambar sunrise. Sebongkah batu besar yang langsung berdampingan dengan jurang curam jadi pilihan kami. Memang lumayan mengerikan, namun demi sunrise rasa takut itu bisa kami lawan. Dua buah kamera dan dua buah bendera Indonesia berukuran besar kami siapkan dan siap dibentangkan.


Tiba-tiba saja suara gemuruh datang dari kerumunan turis Eropa yang berkumpul tak jauh dari mushala di belakang kami. Owh! Rupanya sunrise mulai muncul. Semburat cahaya merah kekuningan mendominasi garis cakrawala. Sepertinya puluhan bahkan mungkin ratusan cahaya blitz dan suara jepretan kamera bermunculan serempak tanpa komando. Kami pun tak mau ketinggalan.

Merah putih kami bentangkan. Rupanya hanya kami yang membawa panji-panji kenegaraan. Cie.. Beberapa mata tertuju kepada kami. Ups! Ternyata bendera yang kami bentangkan menghalangi sorot lensa beberapa turis asing dari sang fajar. 

“Sorryyyyy..!” Teriak kami pada mereka sambil melambaikan tangan.

Di sebelah kanan kami nampak sekumpulan turis Jerman berdiri melingkar. Di bawah komando seorang pimpinannya, mereka membunyikan suara aneh secara bersamaan.

“Ooommm... Ooommm Ooomm!”

Begitu terus dalam beberapa menit seiring munculnya sang matahari. Mungkin mereka adalah sebuah sekte kepercayaan tertentu. Daya pikat matahari pagi yang baru muncul seperempat lebih menarik hati kami ketimbang mencari tahu siapa mereka.

Bongkahan-bongkahan batu yang menjadi bagian dari seluruh gunung ini jadi berwarna keemasan. Suasana terasa sangat megah dan agung. Udara pun perlahan menghangat. Bulatan kuning matahari itu nampak sangat besar. Persis seperti bentuknya saat ia tenggelam di ujung lautan Mediterania ketika saya berada di pesisir Alexandria. Subhanallah!

Puas menikmati sunrise, kami langsung berkemas untuk perjalanan turun. Rute yang akan kami lalui pun 100 % adalah bebatuan. 


Tidak jauh dari puncak, beberapa gubuk kayu penjual souvenir menjadi pemandangan tersendiri di titik-titik pertama jalur turun. Saya sempat membeli dua buah potongan batu yang unik. Batu itu memiliki urat-urat hitam di permukaannya.

Urat-urat itu berbentuk seperti pohon. Uniknya lagi, bila batu itu dibelah maka urat-urat itu akan terus terlihat di bagian dalam. Begitu seterusnya. Saya sempat tak percaya. Namun, si penjual itu tangkas membelah batu yang ada di tangannya menjadi beberapa bagian. Mata saya benar-benar takjub. Guratan urat-urat serupa pohon itu selalu muncul dari dalam belahan batu.


"Pohon-pohon itu masuk ke dalam batu?" Wallahua'lam! :)

“Mengapa bisa begitu?” tanya saya penasaran.

“Urat-urat ini adalah pohon yang dahulu masuk ke dalam batu saat terjadinya percakapan antara Musa dan Allah di gunung ini.” Jelasnya.

“Benarkah??” saya benar-benar penasaran.

“Ya! Saking dahsyatnya kejadian itu, pohon-pohon di gunung ini terjerembab masuk ke dalam batu dan meninggalkan bekas seperti batu ini.” Jelasnya penuh semangat.

“Dari mana anda mendapat batu-batu ini?”

“Saya membelah batu-batu di sekitar sini.” Ujarnya sambil menunjuk ke beberapa arah.

“Bolehkah saya memintanya?” Tanya saya sambil nyengir.

“Anda bisa membelinya. Satu buah harganya EGP. 20”.

Mahal benar harga yang ia tawarkan. Padahal hanya potongan batu kecil saja. Tadinya saya mau langsung meninggalkannya karena dongkol dengan penawaran yang ia berikan. Tapi, kapan lagi saya bisa kemari lagi. Saya akan segera pulang ke tanah air, batu itu bisa jadi kenang-kenangan.




“Saya sudah 6 tahun di Mesir. Saya makan dan minum dari tanah Mesir. Saya sudah separuh menjadi orang Mesir. Masa anda memberi saya harga turis Eropa?” Saya mencoba menawar.

“Anda mahasiswa atau bekerja di Mesir?”

“Saya mahasiswa Al Azhar di Kairo.” Karneh Al Azhar saya tunjukan padanya. Ini memang kartu sakti hehe..

“Saya akan pulang bulan depan dan mungkin tidak akan kembali ke sini karena saya sudah selesai di Al Azhar”. Saya menambahkan.

Ternyata dia luruh juga.

“Baiklah anda mau berapa?”

“Dua buah batu ini EGP 5,00 ya?!” Saya banting saja harganya sebanting-bantingnya.

Dia sempat keberatan dengan tawaran saya. Namun, bukan orang Indonesia kalau tidak piawai menawar dan meluluhkan hati. Berbagai jurus saya keluarkan. Tidak sia-sia ternyata.

“Baiklah. Ambillah. Anggaplah itu hadiah dari saya. Semoga suatu saat anda bisa kembali lagi ke Mesir.”

“Amin, Yaa Rabb! Terima kasih banyak. Semoga keselamatan selalu bersama Bapak.” Saya pun berpamitan setelah memberikan satu lembar EGP 5,00 untuk dua potongan batu berurat pohon.

Hmm.. saya belum begitu yakin dengan cerita yang ia bilang. Namun, saya catat itu sebagai cerita unik dari puncak Sinai. Sambil terus menelusuri kebenaran cerita itu.


Di bawah sana gereja St. Catherine menanti kami. Kami sudah tak sabar untuk melihat pohon gantung dan tumpukan tengkorak pendeta yang ada di salah satu kamar gereja itu. 

Rupanya kami cukup beruntung karena kami bisa mendapatkan semua objek di gereja itu. Kamar yang berisi tumpukan tengkorak para pendeta yang setiap harinya hanya dibuka selama satu jam saja, berhasil kami kunjungi.

Pukul 10.00 pagi kami selesai mengelilingi gereja itu. Perjalanan kami lanjutkan menuju tempat parkir. Di tengah jalan kami bertemu Amran yang asyik ‘ngshoot dengan kamera canggihnya. Dia memang tidak ikut mendaki karena untuk menjaga stamina sebagai driver perjalanan ini.

“Bagaimana perjalanannya?” ia bertanya sembari mengarahkan lensa kameranya pada kami. Jkrekk!

“Capek! Tapi, Sinai benar-benar mengagumkan!” []







Comments
5 Comments

5 komentar:

  1. aku juga ikutan takjub liat batu ituu!

    btw kang ochid, egyptolognya mau dibukuin yaa. kbrin klo udah terbit yaa:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Udah selesai cetak sih. Nampil perdananya di stand Mizan, Islamic Book Fair, Istora Bung Karno Senayan Jakarta. 1-10 Maret 2013. Abis itu baru nangkring di Gramedia se-Endonesa n toko buku lainnya. ;)

      Delete
  2. I have read your book >< Its totally awesome !! Really like it xD Can you pls put your signature on ma book?? lol xD

    ReplyDelete

Silakan tulis kesan anda di sini. :)