Saturday, February 07, 2015

Menjemput Cahaya

Hai.. Sudah lama tak menyapamu. Iya kamu. –Dengan dialek Dodit. Tau Dodit kan?—
Sore itu, saya menumpang sebuah mikrolet menuju Pasar Rebo, Jakarta Timur. Penumpang tak terlalu penuh. Kalau tak salah ingat ada lima orang saja. Di depan sana, ada satu penumpang disamping pak kusir. Eh, pak sopir.
Saya duduk di pojok, di jok yang paling panjang. Kira-kira setengah meter di sebelah saya, duduklah seorang wanita muda dengan rambut sebahu. Hitam kemerahan karena cat rambut. Dari gayanya sih sepertinya dia kerja kantoran.
Deskripsi lebih detail tentang wanita muda itu begini.. Umurnya mungkin tigapuluhan, atau kurang. Kain masker putih yang biasa dijual di apoket-apotek, menutupi mulutnya. Bajunya warna merah dengan lengan pendek. Serasi dengan roknya yang juga merah, dan juga pendek. #eh. Ya, roknya memang pendek. Okelah, sebut saja mini. Tapi, dia memakai selendang agak transparan. Tersangkut di leher belakang, menjuntai hingga menutup rok dan sebagian kakinya.
Sebenarnya saya tidak bermaksud memperhatikannya lho. Tapi, gerak-geriknya membuat saya agak heran sehingga sesekali memperhatikannya. Dia duduk seperti tak tenang. Gesturnya seperti tegang. Dan, nampaknya yang mikir begitu bukan saya saja. Seorang ibu yang duduk di depan saya juga beberapa kali memperhatikannya.
Mikrolet berjalan terus. Sempat terjebak macet di depan pasar Kramat Jati. Sore menuju Maghrib. Pasar Kramat Jati mulai dimeriahkan oleh penjual ikan segar. Bau amis mulai mampir ke dalam mikrolet.
Di kota semegah Jakarta, memang bukan hal aneh sih wanita muda dengan pakaian minim. Atau ketat. Atau apalah yang sejenisnya. Mungkin bagi sebagian orang itu menjadi bagian dari dunia modern ya. Meski kalau di daerah penampilan seperti itu dipandang tabu, lain ceritanya di kota metropolitan. Tapi, tidak sore itu, di dalam mikrolet itu.
Si ibu di depan saya masih saja lirik-lirik memperhatikannya. Wanita muda itu seperti tak menyadarinya. Mungkin karena posisi duduknya juga agak nyerong ke arah depan. Ya, wanita itu memang terlihat duduk tak nyaman. Beberapa kali ia membetulkan selendangnya, agar menutup rok pendek dan kakinya.
Sampai di satu tempat, wanita muda itu seperti bersiap-siap untuk menyetop mikrolet. Ia betulkan posisi tas kecil di pangkuannya. Lalu, waaw! Saya melihat.. Saya melihat.. sebuah buku kecil yang ada di genggaman tangan kanannya.
Coba tebak apa judul buku tipis itu. Ah, ini bukan acara kuis tebak-tebakan. Baiklah akan saya kasih tau. Judul buku di genggaman tangannya adalah, “Wahai Ukhti, Kenapa Engkau Tidak Berjilbab?” Dulu, di sebuah pameran buku, saya pernah melihat buku kecil ini. Waktu itu harganya cuma 6.000 rupiah saja. Sang ibu di depan saya juga melihat buku kecil yang ia genggam.
Seketika itu pikiran saya seperti terlempar pada sebuah labirin berliku. Sempat saya berpikir apakah saya sedang menyaksikan sebuah anomali? Tapi saya yakin bukan. Ternyata di bawah remang cahaya lampu mikrolet yang ketar-ketir melawan hari yang makin gelap, ada pergulatan batin seorang wanita muda. Pergulatan antara aurat yang masih terumbar - terlebih ada laki-laki asing duduk tak jauh darinya-, dengan pikiran yang terpaut pada isi buku di tangannya.
Maka, muncullah kepingan-kepingan puzzle di pikiran saya. Kepingan-kepingan yang saling bertemu menyatu membentuk asumsi kesimpulan. Wanita muda itu belum selesai memamah halaman demi halaman, paragraf demi paragraf dari buku tipis itu. Ia sedang mencari pelipur kerinduan akan rasa tenang untuk hatinya yang sembab. Ia ingin penuhi dahaganya hatinya untuk kembali pada kodrat seorang wanita : berjilbab!
Duhai senja yang tak pernah berlama-lama. Apalah arti perjalanan menjengkelkan tersebab kemacetan. Jika di dalamnya terdapat anak manusia yang sedang dalam perjalanan terjal menuju iman. Apalah arti teriknya ibu kota, jika di dalamnya terdapat anak-anak manusia yang jatuh bangun menuju Rabb-nya.
Wanita muda itu turun di tempat yang tak pernah saya ingat. Usai membayar ongkos, ia hilang di balik gelap malam pada sebuah gerbang jalan. Berjalanlah terus wanita muda. Menjemput cahaya.    
Gambar dari sini.


    Garut. 070215 | Rashid Satari
  

Wednesday, October 15, 2014

Rindu

Rindu kita. Rindu yang lucu. Seperti gerhana kemarin. Engkau ceritakan tentang rembulan yang lugu. Dia ada. Hanya tersipu saat datang cahaya.
 
Pertemuan kita. Pertemuan yang lucu. Luapan hati yang melompat-lompat. Tapi penuh ragu. Bahkan bungkam menyita waktu.
 
Sebuah jam pasir terdampar di mejaku. Menggoda untuk terburu-buru. Dan, kau datang. Meletakkan sekuntum melati. Katamu sebagai pengingat. Tentang jarak yang tak lagi berarti.
 
Rindu kita. Rindu yang biru.
Yang sungkan kita katakan. Yang mabuk kita rasakan.
 
Lalu, ya. Saat itu akan datang.
 
Gambar dari sini.


 
 Bandung. 151014 | Rashid Satari
 
 
 
 
 
   
 

Thursday, August 14, 2014

Roman Sepenggal

Kita diam-diam saling harap
dalam waktu yang tak tepat
Kita diam-diam saling rindu
Tanpa mau menunggu 

Adalah kita
Tegap berdiri saling memandang 
dari kejauhan 
Pura-pura tidak tahu 

Saling menitipkan tanya kepada angin 
Dan jatuh terbawa hujan
Lalu kita simpan 
Menyatukannya dalam tumpukan kenangan 

Ternyata kita tidak benar-benar menutupnya
Karena kita tidak mau
Ternyata kita tidak benar-benar melupakannya
Karena kita merindukan masa lalu 

Ah.. 
Adakah yang lebih menyebalkan 
dari kerapuhan kita 
Mengukir senyum rapi
Padahal menutupi ribuan tanda kali dan bagi 

Adakah yang lebih membingungkan 
dari kesibukan kita 
Meliuk-liuk dalam labirin yang kita buat sendiri
Berkerut dahi dalam masalah yang kita reka sendiri 
Sibuk dalam urusan yang tak membuat kita beranjak sama sekali 

Kemanakah kita sebenarnya?
Seperti purnama dan gerhana dengan bulan yang sama 
Seperti malam dan siang dengan matahari yang tak mendua 

Mungkin ada alinea yang belum berakhir
Namun kita akhiri
Mungkin itu sekedar bait sumir 
Yang belum rampung kita tulisi 

Ah ya.. 
Itu hanyalah mungkin 
Seperti puzzle yang terserak 
Dan kita hanya menebak 
Adakah gambar utuh di sana
Ataukah tidak 

Namun kita tak bisa hanya menunggu untuk tahu
Semestinya kita coba susun puzzle itu 
Satu demi satu. 

Gambar dari sini.


Garut. 14 Mei 2014 | Rashid Satari


Friday, November 15, 2013

Dari Biasa

Ah.. kamu masih saja berkelit jika nama ‘Muhammad’ kuingatkan. Kamu bilang ia manusia setengah malaikat. Padahal kitab sucimu sendiri yang bilang dia manusia biasa. Ia pemimpin. Namanya membuat gentar segala makhluk dari timur hingga barat, selatan hingga utara. Dan, adalah dia manusia sepertimu. Makan, minum, tidur dan bangun.

Oh, begitu ya.. Dia seorang nabi dan rasul? Oh, dia manusia yang ma’shum, terjamin suci dari salah dan dosa? Baiklah.. baiklah. Simpan dulu alibimu itu.  

Pernahkah kamu dengar manusia biasa lainnya. Bukan nabi, rasul, apalagi setengah malaikat. Dan, bukan cuma satu. Banyak.

Duduklah. Biar kuceritakan mereka.

Seorang anak manusia. Tubuhnya kurus, punggungnya agak bungkuk. Berdiri tegak mungkin pelik baginya. Tapi, di tangannya agama bernama Islam selamat dari transisi yang kritis. Jauh sebelum menjadi pelanjut misi kenabian, ia sudah berhati berlian. Ia perahkan susu kambing untuk para janda veteran perang. Ia buatkan roti gandum untuk para yatim yang ditinggalkan.

Lalu, dia menjadi khalifah. Saat kesibukan telah berlipat bertambah. Para janda dan yatim itu meratap karena tak kan ada lagi laki-laki asing pemerah susu dan pembuat roti gandum bagi mereka. Hingga suatu hari, seorang gadis yatim bersorak pada ibunya, “Ibu, pemerah susu itu datang!”

Ya! Kedudukannya memang telah sejajar raja Romawi dan Persia. Tapi, laki-laki kurus dan bungkuk ini tetap datang. Memerahkan susu dan membuatkan roti gandum untuk mereka.

Ah, baik sekali kamu. Terima kasih airnya. Aku minum dulu..

Namanya Abu Bakar. Nama yang tak asing untukmu.

Betul, aku bilang manusia seperti ini banyak. Maka, simaklah satu lagi.

Pemuda berpostur besar dan kokoh. Ia terkenal sebagai pegulat tangguh di negerinya. Tak ada yang berani meski sekedar menatap matanya. Dia amat benci Islam. Dialah salah satu alasan Muhammad dan para sahabat rahasiakan ibadah mereka.

Tapi, angin sejarah berubah, kawan. Laki-laki ini ber-Islam. Bahkan dia jadi alasan bagi Muhammad dan para sahabat lakukan ibadah dan dakwah secara terbuka. Hebat bukan? Bahkan, dia menjadi khalifah setelah Abu Bakar.

Ah, jika kamu tak bisa tebak siapa orangnya, keterlaluan!

Empat puluh empat negeri ia taklukan dalam sembilan tahun. Dari Tripoli di barat sampai Persia di timur. Dari Yaman di selatan sampai Armenia di utara. Lihat, begitu besar namanya.

Bukan berarti dia cinta perang. Setiap zaman selalu punya bahasanya sendiri.

Lihatlah ini. Siang itu, dia harus berceramah di depan sahabat-sahabatnya. Tapi, dia tak juga datang. Tak lama, nampak ia berjalan cepat tergopoh. Ia meminta maaf karena terlambat.

Tahukah kamu, ada tak kurang dua puluh tambalan di bajunya. Dan, tahukah kamu apa pasal ia terlambat? Baju dalamnya belum kering benar. Di rumah, ia harus tunggu sejenak hingga bajunya tak terlalu basah.

Pemimpin besar yang memanggul sekarung gandum untuk rakyatnya yang lapar. Pemimpin yang turun tangan menggali parit di kotanya, Madinah. Pemimpin penakluk Yarusalem yang menjamin hidup kaum kami, Nashrani di sana. Gereja tak pasukannya koyak. Tak ada salib yang pasukannya rusak. Pemimpin yang bergantian dengan pelayannya mengendarai kuda.  Pemimpin yang ketika diberi makanan lezat oleh bawahannya, dia kembalikan seraya berpesan, “Jangan engkau kenyang sebelum rakyatmu kenyang!” 

Namanya Umar.

Sekarang kamu cibir hancur negeri ini. Katamu pemimpin adil alergi korupsi adalah mimpi.  
Kamu tengoklah lagi, mereka yag kuceritakan tadi itu manusia. Kamu cubit kulitnya, mereka sakit. Kamu robek dagingnya, darahnya merah. Mereka bukan nabi, malaikat apalagi separuh dewa.

Tahukah kamu, mereka hidup di masa ketika banyak tetangganya mengubur anak-anak perempuan tersebab malu. Mereka tumbuh di masa ketika tetangga mereka membuat tuhan dari pahatan batu.

Tidakkah kamu lihat, masih banyak manusia-manusia biasa berhati mulia di negeri kita. Tetaplah miliki mimpi, kawan. Meski baru sebatas mimpi. Lebarkan lebih lama matamu. Di balik gelap ada cakrawala. Lihatlah, semburat fajar akan menimang gulita.  

Gambar dari sini. 

Bandung, 15 November 2013 | Rashid Satari

* Tulisan ini bisa dilihat juga di sini : http://inspirasi.co/forum/post/133/dari_biasa


Wednesday, June 19, 2013

29


Dua dan sembilan.

Tahun ke duapuluh sembilan.

Pada bulan Dua, tanggal Sembilan.

Betul, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Ada skenario agung yang menghendaki setiap peristiwa terjadi. Sekecil apapun itu. Meski sekedar satu pucuk daun kering yang gugur terhempas di atas tanah. Mati. Diseret angin. Diserap bumi. Menjadi energi.

Saya, mungkin begitu juga setiap manusia, tidak tahu mengapa harus lahir. Jikapun sebelumnya sudah ada perjanjian antara saya dengan Sang Khaliq, maka bisa dipastikan saya lupa ketika dilahirkan.

Namun, melalui halaman-halaman Al Quran, saya (di)ingat(kan). Tidak semata-mata lahir tanpa tujuan. Saya lahir membawa sesuatu untuk diemban.

Kini, sudah tahun ke dua puluh sembilan. Ini bukanlah perjalanan singkat. Hidup bukanlah cerita biasa. Meski saya menjalaninya secara tidak luar biasa. Dua puluh sembilan tahun adalah hal yang tidak terduga. Sehat. Cukup. Utuh. Hidup.

Dua adalah angka setelah satu. Satu adalah masa berdiri. Dua adalah mula melangkah. Sembilan? Saya pikir dia adalah angka tertinggi. Di mana bilangan setelah dia adalah nol. Kosong. Dan, bilangan-bilangan setelahnya hanyalah gabungan antar satuan. Sembilan adalah bilangan tertinggi. Dan dia ganjil. Allah menyukai yang ganjil.

Setiap hal di alam raya ini bisa kita renungi dan tafsiri. Termasuk angka-angka. Tapi, bukan ramal-ramal apalagi dengan jampi-jampi. Hanya usaha menemukan makna. Meski secara terbata-bata. Karena bukankah memang itu yang mengistimewakan kita sebagai manusia. Makhluk yang diberi akal untuk merangkai sebab dengan akibat. Merajut fenomena, menemukan sintesa. Setelah dan sebelum kembali bertemu dengan antitesa.

Dua dan sembilan. Ah, itu memang sekedar angka. Untuk lebih dramatis, boleh disebut sebagai simbol. Pengingat. Tentang apa? Tentu saja, usia. Bukankah manusia butuh simbol, pengingat, untuk melawan lupa. Lupa pada alasan hadirnya di dunia. Bukan lupa pada usia. Karena usia tak pernah penting, sepanjang hidup bisa bernilai. Tak peduli sebelia apapun.

Dua dan sembilan adalah pengingat untuk saya. Agar tetap eling. Menjadi manusia yang ingat kembali setelah lupa. Tentang arti hadirnya di dunia.


Bandung, 19 Juni 2013 | Rashid Satari

- Tulisan ini terselip di salah satu folder saya. Ditulis Februari silam.
- Gambar diambil dari sini. 


  


Monday, June 10, 2013

Anak Bawang




Adalah saat di mana engkau diizinkan ikut bermain. Tapi, semua aturan main tak berlaku untukmu. Beruntung engkau tak pernah menjadi kalah. Namun, engkau pun tak pernah menjadi menang. Karena, engkau anak bawang.

Engkau pasti tahu betapa mengesalkannya berada dalam keadaan seperti itu. Berada di tengah pusaran, tanpa pernah merasakan sensasi putarannya. Berada di atas gelombang tanpa pernah merasakan lonjakannya. Hampa saja.

"Hey anak bawang, engkau ikutlah berlari jika dikejar!"

"Hey anak bawang, engkau ikutlah sembunyi jika dicari!"


Ya, engkau bisa berlari sekencang mungkin. Atau sembunyi seaman mungkin. Tapi, semua itu tak berarti. Engkau tak ubahnya antara ada dan tiada. Tak ada bedanya.

Anak bawang. Saat dunia tertawa, tak pernah tahu tertawa untuk apa. Yang engkau tahu, permainan sedang berlangsung. Dan, engkau tak benar-benar berada di sana meski bergabung.

Anak bawang tersemat padamu hanya karena tubuhmu lebih kecil dari yang lain. Atau, hanya karena usiamu lebih muda dibanding yang lain. Atau, hanya karena engkau tak terampil seterampil yang lain.

Mungkin larimu tak sekencang yang lain. Atau tubuhmu tak setinggi yang lain. Semua yang mendefenisikan dirimu lebih lemah, itu alasan engkau dinamai anak bawang. Ah, entah siapa yang menciptakan istilah itu.

Tapi hey anak bawang, ada satu hal yang engkau rasakan yang tak mereka rasakan. Engkau belajar bagaimana menjadi besar. Engkau temukan motivasi seperti lecutan. 

Menjadi anak bawang mungkin membuatmu marah atau minimal cemburu. Tapi percayalah, engkau akan berlari cepat saat yang lain mulai melambat. Dan saat yang lain melemah, engkau malah makin kuat.

Hanya tentang waktu. Tak lama dari itu, engkau akan jadi manusia baru.



Bandung, 10 Juni 2013 | Rashid Satari


- Gambar adalah Raspathi, ponakan saya. Saat melihat kakaknya yang sedang bermain dengan teman-temannya. Gambar diambil oleh mamanya, yaitu adik saya.


Thursday, June 06, 2013

Lima Cobek Batu



Suatu ketika di masa kecil dulu..

Sejak siang hingga sore itu, hujan masih turun cukup deras. Air meluncur dari talang yang memanjang tepat di bawah genting. Menimpa dedaunan Pakis yang merimbun rendah di halaman rumah.

Tiba-tiba terdengar suara Bapak berteriak memanggil seseorang dari teras rumah. 

"Mang.. kemari!"

Saat saya mengikuti arah suara itu, nampak Bapak dan seorang lelaki paruh baya berbicara di teras. Lelaki itu nampak basah dan sedikit kumal. Ternyata, ia penjual cobek batu. Di Bandung, kami menyebutnya Coet.

Bapak memanggil ibu dan minta dibuatkan dua cangkir teh hangat. Lalu, Bapak terlihat duduk-duduk dengan lelaki itu di sepasang kursi rotan tua yang tersimpan di teras. Saling berbicara yang entah apa. Suara mereka kalah oleh suara air hujan yang beradu dengan kulit bumi.

Hujan pun reda. Lelaki itu bersalaman dengan Bapak. Pamit. Beberapa cobek yang tidak dia bawa, nampak bertumpuk di teras. Ibu bertanya pada Bapak. Bapak bercerita. Cobek itu dibelinya. Lima buah! Ibu protes, buat apa?! Karena di dapur masih ada dua cobek batu.

Bapak bilang, "Kasihan!" Itu saja. 

Zaman banyak berubah dengan cepat. Teknologi tak bisa dilawan. Tradisional hanya tinggal kenangan. Jika tidak dimuseumkan, paling jadi pajangan. Cobek batu melawan blender pabrikan, keteteran. Kalah digilas zaman.

Namun, masih saja ada orang-orang 'keras kepala' yang menjual cobek batu, gulungan bilik, kursi kayu atau Taraje (tangga bambu). Berjalan kaki dengan beban berat di pundaknya. Mengetuk dari rumah ke rumah. Mencari yang alergi pada produk plastik buatan pabrik. Hebatnya, mereka tidak kapok dan nampak lega saja jika ada yang membelinya meski menawar secara keterlaluan.

Lima cobek itu.. hampir saja jadi tumpukan batu di pojok paviliun. Sebelum Bapak menaikkan nilai tambahnya sebagai pot bonsai imitasi yang cantik.

"Kenapa waktu itu Bapak membeli semua cobek ini?" Tanya saya saat Bapak asyik memoles potongan akar pohon Teh tua untuk batang bonsai imitasinya. 

"Dari pagi belum ada yang beli. Mana hujan. Lagian, siapa lagi yang mau jaga kelestarian cobek batu kalau bukan kita sendiri. Satu lagi Nak, sambal itu jauh lebih enak kalau diuleg pake cobek batu!" 

Saya : "Lalu kenapa cobek ini Bapak jadikan pot bonsai?!"

Bapak : "...#$&*@...!" 

:)



Bandung, 05 Juni 2013 | Rashid Satari

- Gambar diambil dari sini.

   

Sunday, June 02, 2013

Pulang



Satu tahun setengah saya bekerja di Bandung. Sebelumnya, sejak pulang dari Al Azhar, dua tahunan saya habiskan sebagai freelancer yang domisilinya nomaden. Hari ini di Garut, besok di Jakarta. Kadang singgah di Bekasi lalu Depok. Seringkali di Bandung, sebelum akhirnya kembali di Garut.

Sejak ‘menetap’ di Bandung, saya pulang ke Garut biasanya dua minggu atau sebulan sekali. Menyesuaikan dengan aktifitas. Seperti karyawan kebanyakan, saya juga pulang setiap akhir pekan. Sabtu dari Bandung, dan biasanya Senin pagi berangkat lagi dari Garut. Ritme yang amat mainstream.

Satu ketika di akhir pekan di Garut, ponakan kecil saya, Atta, bertanya, “Uwa, kapan pulang lagi ke Bandung?” Saya hanya tersenyum. Sebelumnya, mamanya yaitu adik saya, juga bertanya yang sama; kapan saya PULANG ke Bandung.

Saya tersenyum mendengar pertanyaan Atta karena pertanyaannya benar-benar memancing saya untuk tersenyum. Bagaimana tidak, bukankah Garut rumah saya.  Iya.. Iya.. rumah orang tua saya deh. Maksud saya, bukankah justru Garut-lah tempat saya “pulang”. Bukan Bandung. Pertanyaan seharusnya adalah, “Kapan berangkat/pergi lagi ke Bandung?” Ini pernah saya bilang pada mamanya Atta. Meski tetap saja pertanyaan spontan yang keluar adalah “pulang ke Bandung”.

Namun, biarlah. Karena mungkin itu tidak terlalu prinsipil. Hanya saja percakapan di atas membuat saya teringat tentang dari dan mau kemanakah manusia. Saya. Anda. Kita. Apakah yang sebenarnya kita lakoni di dunia ini. Sebuah kisah mengenai perjalanan menuju pergi? Atau, kisah perjalanan menuju pulang?

“Sesungguhnya kami hanya milik Allah dan kepada Allah kami akan kembali.” (QS. Al Baqarah [2]: 156). Ini adalah kalimat istirja’ atau pernyataan akan kembali kepada-Nya. Ya, kita dari-Nya dan akan pulang kepada-Nya.

Setiap kali pulang ke Garut, saya selalu mengusahakan untuk membawa perbekalan. Minimal, membawa oleh-oleh buat ponakan, adik, bapak dan ibu. Namun, tidak demikian saat saya pergi ke Bandung. Biasanya malah rasa berat karena akan berhadapan lagi dengan rutinitas.

Seperti fenomena mudik lebaran, pulang memang selalu bermakna spesial. Pulang adalah menuju istirahat. Menuju tenang. Maka, yang kita bekal pun adalah adalah bingkisan optimisme, kebahagiaan.

Lantas, apa yang kita akan bekal menuju pulang kepada Allah? Ya, dunia adalah perjalanan menuju pulang. Bukan menuju pergi. Pulang ke Tujuan yang tak ada lagi tujuan selain dan setelah-Nya.



Bandung, 02 Juni 2013 | Rashid Satari

- Gambar diambil dari sini.


Monday, May 13, 2013

#Egyptology Gratis. Bertandatangan. Mau?


Sudah punya bukunya? Sudah baca? 

Sebagai tanda terima kasih untuk Pembaca, penulis akan hadiahkan 5 (lima) buah buku #Egyptology bertandatangan penulis, kepada siapa saja yang beruntung. Bisa jadi Anda salah satunya. :)

Bagaimana caranya? Sederhana..

1. Tulis komentar Anda tentang buku ini. Kira-kira 3-5 paragraf saja. Lebih tak apa-apa. Jumlah karakter atau kata tak ditentukan. :)

2. Simpan komentar tersebut pada NOTE Facebook Anda. Sertakan foto/gambar buku #Egyptology. Tag penulis pada NOTE tersebut.

3. LIMA komentar yang paling banyak mendapatkan LIKE adalah mereka yang beruntung. Masing-masing akan mendapatkan satu #Egyptology bertandatangan.

4. Batas akhir pemuatan komentar ini Rabu 22 Mei 2013 pukul 23.00 WIB. Jadi, makin cepat Anda memuat komentar, makin banyak waktu mengumpulkan LIKE. :)

5. Pengumuman pemenang pada Kamis 23 Mei 2013, dan akan dihubungi penulis melalui inbox masing-masing. InsyaAllah.

Siapa tau Anda salah satu yang beruntung ya.. Terima kasih.


Salam hangat,

Rashid Satari


Friday, February 08, 2013

[#Egyptology] Cerita dari Sinai


Berada 2.600 meter di atas permukaan laut (mdpl), St. Catherine atau dikenal juga dengan gunung Sinai, berdiri kokoh menjulang di bagian barat Mesir. 

Gambar diambil dari sini.
Kami berdelapan berangkat ke sana dengan mengendarai sebuah Avanza merah marun. Saya, Irfan, Risyan, Maher, Amran, Farid, Syarief dan Imazahra. Kami berangkat sekitar pukul 09.00 pagi kendaraan bertolak dari rumah saya.

Sebelum menuju Sinai sebagai tujuan utama, rencananya ada beberapa tempat yang akan kami singgahi. Pertama, Terusan Suez sekaligus penyebrangan/jembatan bawah airnya. Kedua, Benteng Berlief yaitu benteng peninggalan Israel saat perang perebutan gurun Sinai berkecamuk antara Israel dengan Mesir. Tempat selanjutnya adalah ‘Uyun Musa atau mata air Nabi Musa. Di tempat terakhir ini kami sempat menikmati tenggelamnya matahari di ujung hamparan pasir yang bertemu dengan langit di garis cakrawala.

Lama perjalanan dari Kairo menuju Sinai sendiri sekitar 13 jam. Kami sampai di kaki gunung Sinai pada pukul 01.00 dini hari pada hari berikutnya. Suhu udara di kaki gunung Sinai berkisar di angka 15 derajat celcius. Cukup dingin apalagi suhu di siang hari cukup panas sehingga kami merasakan perubahan yang cukup ekstrim. Di atas sana suhu tentu lebih dingin lagi. Namun, kedinginan itu akan terobati saat kami melakukan pendakian. Karena, medan pendakian cukup sulit. Rutenya adalah tanjakan hingga ke puncak. Turunan baru akan kami temui saat perjalanan kembali ke kaki gunung.

Sebelum pendakian dimulai, kami harus melalui pemeriksaan di pos keamanan di kaki gunung. Lokasinya tidak jauh dari cafetaria, kios-kios cinderamata dan toilet umum. Tempat-tempat itu mengelilingi area kosong yang cukup luas di mana kami memarkirkan kendaraan bersampingan dengan kendaraan lain termasuk bis dan minibus.

“Anda bersama teman-teman anda harus ditemani seorang guide”. Ujar seorang petugas kepada Amran.

Sudah dua atau tiga tahun terakhir ini setiap turis atau satu rombongan turis yang hendak mendaki Sinai diharuskan memiliki pemandu yang disediakan di pintu masuk area ini. Tujuannya adalah selain demi keselamatan para turis, juga untuk membuka lapangan kerja untuk penduduk setempat. Tarif seorang pemandu untuk mendaki dan kembali adalah EGP 100.

Namun, kami yang merasa sudah lama tinggal di Mesir dan beberapa diantara kami sudah ada yang pernah mendaki gunung ini, kami coba melobi petugas agar kami bisa mendaki tanpa guide. Hal ini sudah kami sepakati sejak dalam perjalanan.

Amran nampak berdiskusi dengan petugas di dalam pos penjagaan. Tak lama, ia dan seorang petugas berjalan menuju kami yang menunggu di luar pos. 

“Kalian mahasiswa Al Azhar?”

“Aiwah! Ya!” kompak kami menjawab.

“Kalau begitu, kalian hafal Al Quran ya?!” ia bertanya.

Saya langsung teringat perkataan Grand Syaikh Al Azhar, Prof. Dr. Mohammad Sayyed Thantawy (Alm.) di sebuah acara lokakarya, “Laisa minal Azhariyyin man lam yahfadz Al Quran.” Siapa yang tidak hafal Al Quran, maka dia bukanlah seorang anak Al Azhar.

Mendengar pertanyaan itu kami semua tersenyum-senyum. Karena, kami tahu kami tidaklah hafal seluruh isi ayat Al Quran, melainkan hanya beberapa juz saja. 


“Ya.. kami hanya hafal sedikit saja.” Salah seorang dari kami menyambut pertanyaannya.

“Hehe.. begitu ya?! Baiklah, silakan kalian berangkat tanpa pemandu. Namun, berhati-hatilah. Kalian ikuti saja rombongan turis Eropa ini.” Ujarnya sembari melirikkan mata kepada rombongan turis Eropa yang tengah berkerumun tak jauh dari kami.

“Mereka berangkat dengan seorang pemandu. Ikuti saja mereka supaya kalian tidak tersesat.” Ia menambahkan.

Kontan saja kami sangat berterima kasih pada petugas itu. Kami tidak menyangka semudah itu ia bisa mengabulkan permintaan kami. Maklumlah, saat di Kairo kami memperoleh informasi bahwa sangat sulit melobi petugas di sana untuk bisa mendaki tanpa pemandu. Walhasil, kami bisa berhemat EGP 100. Angka yang sangat lumayan untuk sarapan esok hari.

Pendakian pun dimulai. Suasana sangat gelap ketika itu. Bulan nampak malu-malu menampakkan dirinya. Ia nampak hanya mengintip saja dari kejauhan. Untungnya, bintang-bintang berserakan seperti perca yang bertaburan di atas permadani hitam. Beberapa kali rasa lelah kami terhibur dengan bintang jatuh.

Buat saya yang pernah mendaki sebelumnya, rute pendakian ini tidaklah asing. Batu-batu besar dan kecil, jalan yang tidak rata dan cenderung menanjak, sampai unta-unta yang tiba-tiba saja muncul di kegelapan. Tidak heran, beberapa rekan yang pertama kali mendaki di gunung ini sulit sekali menghindari batu sandungan dan kesulitan lainnya. Apalagi kami hanya mengandalkan cahaya pada dua senter kecil.

Jarak pandang kami hanya 2 meteran saja. Oleh karenanya, beberapa kali kami merasakan ketegangan saat kami tertinggal oleh rombongan turis di depan kami. Mau tak mau kami harus menunggu rombongan turis berikutnya. Mereka berjalan cepat sekali.


Maher yang bertubuh paling tambun diantara kami nampak kelelahan. Tapi, rupanya ia tidak mau menyerah begitu saja.

“Kita beristirahat saja beberapa menit di pos peristirahatan.” Salah seorang diantara kami berteriak dari arah belakang.

“Ok!” Kami yang berjalan di depan mengiyakan.

Saya sendiri agak ragu untuk mengiyakan. Saya khawatir waktu yang kami pakai untuk beristirahat bisa menyita waktu yang menyebabkan kami kesiangan sampai di puncak nanti.

Tentu tidak lucu bila kami tiba di puncak saat sunrise telah berlangsung. Karena detik-detik sunrise adalah target utama pendakian ini. Bulat dan hangatnya matahari saat terbit akan melunasi rasa lelah kami di sepanjang jalur pendakian.

Akan tetapi, keraguan saya harus mengalah karena kami nyatanya memang perlu sejenak beristirahat. Di pos peristirahatan, Maher sempat terkantuk-kantuk, Ima mengalami sakit otot kaki, Farid mengotak-atik lensa kamera demi mengabadikan bintang jatuh. Risyan sibuk dengan senter mininya sedangkan yang lain duduk mengatur nafas untuk perjalanan selanjutnya.

Perjalanan menuju pos ini tidak begitu sulit karena kami mengikuti jalur yang agak mudah kami jangkau dengan pandangan mata. Tidak jauh dari tempat kami duduk, serombongan turis Eropa yang telah lebih dulu sampai nampak melakukan hal yang tak jauh beda dengan kami. Mereka memanfaatkan waktu yang sempit untuk memulihkan tenaga. Sesekali beberapa onta bersama pengendalinya lewat di tempat itu.

Pos peristirahatan ini berupa gubuk kayu di tanah yang relatif datar, dengan halaman agak lebih luas dibandingkan lebar jalur pendakian. Gubuk itu ditunggui oleh seorang penjaga yang sekaligus menjajakan jajanan seperti roti, biskuit, coklat dan soft drink. Tentu saja harganya beberapa kali lipat dari harga normal nun jauh di bawah sana.


Ada 6 pos peristirahatan yang kami lalui sebelum mencapai puncak. Setelah pos terakhir, medan pendakian semakin curam menanjak berbentuk tangga-tangga batu. Hal yang sangat terasa dalam pendakian ini adalah letihnya otot paha, lutut dan betis. Bagi yang belum terbiasa, serangan kram otot sangat mungkin terjadi.

Sekitar pukul 04.00 dini hari kami berhasil mencapai puncak. Suasana masih sangat gelap. Namun, sudah banyak orang di sana yang berbaring sambil berselimut tebal menanti munculnya sunrise. Beberapa pasang turis nampak berpelukan di beberapa pojok bongkahan batu.

Ada satu gereja dan mushala kecil di puncak ini. Kami sangat bersyukur ruangan mushala yang hangat ternyata kosong karena kebanyakan turis yang ada di sana adalah non-muslim. Kamipun segera menghangatkan diri di sana sekaligus menunaikan shalat subuh.

“Hey! What are you doing here?!” Tiba-tiba saja seorang pribumi muncul di pintu mushala.

“Are you Moslem?” susulnya tanpa menunggu jawaban atas pertanyaan pertamanya.

“Ya. Kami adalah muslim dan kami hendak melaksanakan shalat subuh di tempat ini.” Jawab salah seorang dari kami.

Nada bicara orang Mesir itu langsung menurun, lalu dia mempersilahkan kami. Rupanya ia adalah penjaga tempat ini yang bertugas merawat mushala. Seorang penduduk asli daerah sini. Pantas saja dialek bicaranya sedikit berbeda dengan mereka yang tinggal di Kairo.

Selepas shalat subuh berjamaah, kami segera menuju keluar dan mencari tempat yang pas untuk mendapatkan sudut pandang yang asyik saat mengambil gambar sunrise. Sebongkah batu besar yang langsung berdampingan dengan jurang curam jadi pilihan kami. Memang lumayan mengerikan, namun demi sunrise rasa takut itu bisa kami lawan. Dua buah kamera dan dua buah bendera Indonesia berukuran besar kami siapkan dan siap dibentangkan.


Tiba-tiba saja suara gemuruh datang dari kerumunan turis Eropa yang berkumpul tak jauh dari mushala di belakang kami. Owh! Rupanya sunrise mulai muncul. Semburat cahaya merah kekuningan mendominasi garis cakrawala. Sepertinya puluhan bahkan mungkin ratusan cahaya blitz dan suara jepretan kamera bermunculan serempak tanpa komando. Kami pun tak mau ketinggalan.

Merah putih kami bentangkan. Rupanya hanya kami yang membawa panji-panji kenegaraan. Cie.. Beberapa mata tertuju kepada kami. Ups! Ternyata bendera yang kami bentangkan menghalangi sorot lensa beberapa turis asing dari sang fajar. 

“Sorryyyyy..!” Teriak kami pada mereka sambil melambaikan tangan.

Di sebelah kanan kami nampak sekumpulan turis Jerman berdiri melingkar. Di bawah komando seorang pimpinannya, mereka membunyikan suara aneh secara bersamaan.

“Ooommm... Ooommm Ooomm!”

Begitu terus dalam beberapa menit seiring munculnya sang matahari. Mungkin mereka adalah sebuah sekte kepercayaan tertentu. Daya pikat matahari pagi yang baru muncul seperempat lebih menarik hati kami ketimbang mencari tahu siapa mereka.

Bongkahan-bongkahan batu yang menjadi bagian dari seluruh gunung ini jadi berwarna keemasan. Suasana terasa sangat megah dan agung. Udara pun perlahan menghangat. Bulatan kuning matahari itu nampak sangat besar. Persis seperti bentuknya saat ia tenggelam di ujung lautan Mediterania ketika saya berada di pesisir Alexandria. Subhanallah!

Puas menikmati sunrise, kami langsung berkemas untuk perjalanan turun. Rute yang akan kami lalui pun 100 % adalah bebatuan. 


Tidak jauh dari puncak, beberapa gubuk kayu penjual souvenir menjadi pemandangan tersendiri di titik-titik pertama jalur turun. Saya sempat membeli dua buah potongan batu yang unik. Batu itu memiliki urat-urat hitam di permukaannya.

Urat-urat itu berbentuk seperti pohon. Uniknya lagi, bila batu itu dibelah maka urat-urat itu akan terus terlihat di bagian dalam. Begitu seterusnya. Saya sempat tak percaya. Namun, si penjual itu tangkas membelah batu yang ada di tangannya menjadi beberapa bagian. Mata saya benar-benar takjub. Guratan urat-urat serupa pohon itu selalu muncul dari dalam belahan batu.


"Pohon-pohon itu masuk ke dalam batu?" Wallahua'lam! :)

“Mengapa bisa begitu?” tanya saya penasaran.

“Urat-urat ini adalah pohon yang dahulu masuk ke dalam batu saat terjadinya percakapan antara Musa dan Allah di gunung ini.” Jelasnya.

“Benarkah??” saya benar-benar penasaran.

“Ya! Saking dahsyatnya kejadian itu, pohon-pohon di gunung ini terjerembab masuk ke dalam batu dan meninggalkan bekas seperti batu ini.” Jelasnya penuh semangat.

“Dari mana anda mendapat batu-batu ini?”

“Saya membelah batu-batu di sekitar sini.” Ujarnya sambil menunjuk ke beberapa arah.

“Bolehkah saya memintanya?” Tanya saya sambil nyengir.

“Anda bisa membelinya. Satu buah harganya EGP. 20”.

Mahal benar harga yang ia tawarkan. Padahal hanya potongan batu kecil saja. Tadinya saya mau langsung meninggalkannya karena dongkol dengan penawaran yang ia berikan. Tapi, kapan lagi saya bisa kemari lagi. Saya akan segera pulang ke tanah air, batu itu bisa jadi kenang-kenangan.




“Saya sudah 6 tahun di Mesir. Saya makan dan minum dari tanah Mesir. Saya sudah separuh menjadi orang Mesir. Masa anda memberi saya harga turis Eropa?” Saya mencoba menawar.

“Anda mahasiswa atau bekerja di Mesir?”

“Saya mahasiswa Al Azhar di Kairo.” Karneh Al Azhar saya tunjukan padanya. Ini memang kartu sakti hehe..

“Saya akan pulang bulan depan dan mungkin tidak akan kembali ke sini karena saya sudah selesai di Al Azhar”. Saya menambahkan.

Ternyata dia luruh juga.

“Baiklah anda mau berapa?”

“Dua buah batu ini EGP 5,00 ya?!” Saya banting saja harganya sebanting-bantingnya.

Dia sempat keberatan dengan tawaran saya. Namun, bukan orang Indonesia kalau tidak piawai menawar dan meluluhkan hati. Berbagai jurus saya keluarkan. Tidak sia-sia ternyata.

“Baiklah. Ambillah. Anggaplah itu hadiah dari saya. Semoga suatu saat anda bisa kembali lagi ke Mesir.”

“Amin, Yaa Rabb! Terima kasih banyak. Semoga keselamatan selalu bersama Bapak.” Saya pun berpamitan setelah memberikan satu lembar EGP 5,00 untuk dua potongan batu berurat pohon.

Hmm.. saya belum begitu yakin dengan cerita yang ia bilang. Namun, saya catat itu sebagai cerita unik dari puncak Sinai. Sambil terus menelusuri kebenaran cerita itu.


Di bawah sana gereja St. Catherine menanti kami. Kami sudah tak sabar untuk melihat pohon gantung dan tumpukan tengkorak pendeta yang ada di salah satu kamar gereja itu. 

Rupanya kami cukup beruntung karena kami bisa mendapatkan semua objek di gereja itu. Kamar yang berisi tumpukan tengkorak para pendeta yang setiap harinya hanya dibuka selama satu jam saja, berhasil kami kunjungi.

Pukul 10.00 pagi kami selesai mengelilingi gereja itu. Perjalanan kami lanjutkan menuju tempat parkir. Di tengah jalan kami bertemu Amran yang asyik ‘ngshoot dengan kamera canggihnya. Dia memang tidak ikut mendaki karena untuk menjaga stamina sebagai driver perjalanan ini.

“Bagaimana perjalanannya?” ia bertanya sembari mengarahkan lensa kameranya pada kami. Jkrekk!

“Capek! Tapi, Sinai benar-benar mengagumkan!” []







Tuesday, January 29, 2013

[#Egyptology] Tsunami Aceh dan Klakson Bis

Saat itu sedang musim dingin. Saya tengah bercengkrama dengan teman-teman satu flat saya selepas Maghrib. Salah satu dari teman saya itu adalah Aulia Ulhaq Marzuki. Usianya satu tahun di atas saya. Dia berasal dari Aceh. Kami saling kenal baik karena sama-sama aktifis organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) perwakilan Mesir. Saat itu rumah yang kami tinggali
adalah sekaligus menjadi sekretariat.

Sore itu, Aulia nampak sumringah karena akan menelfon keluarganya di Aceh yang sudah lama tak ia sapa. Ia masih menggenggam gagang telefon, nampaknya sedang menunggu nada sambung dan menunggu seseorang mengangkat telefonnya di seberang sana.

“Halloo.. Haloo..Assalamu’alaikuumm!” Aulia nampak gembira setelah mendengar suara.

Sore itu Aulia menelefon cukup lama. Saya mendengar langsung dia sedang berbicara dengan ayahnya, kemudian berbicara pada ibunya dan dilanjutkan dengan adik-adiknya. Banyak hal dia ceritakan, mulai dari kabarnya di Kairo hingga keinginannya untuk pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji.

Aulia pun tak lupa menanyakan kabar anggota keluarganya, kemudian meminta doa untuk ujian semester ganjil di kampus yang akan digelar tak lama lagi. Aulia adalah teman satu angkatan juga satu kelas saya di kampus. Ujian semester ganjil akan dimulai kurang lebih satu bulanan lagi. Malam itu seisi rumah memang sudah mulai fokus ke persiapan ujian. Sudah menjadi pola bersama bahwa bila sudah memasuki waktu satu bulanan menjelang ujian, segala kegiatan hanya difokuskan untuk persiapan ujian.

Namun, suasana seketika berubah di keesokan harinya. 26 Desember 2004. Televisi-televisi di Kairo menyiarkan sebuah musibah besar yaitu gempa bumi berkekuatan sekitar 9 skala richter di Samudera Hindia. Musibah itu lebih menggemparkan karena dampak gelombang tsunami yang ditimbulkannya. Berita yang paling menggemparkan kami adalah saat mendengar bahwa gelombang Tsunami itu menyapu beberapa wilayah pesisir pantai dari Asia hingga Afrika, salah satunya adalah Aceh!

Warga negara Indonesia di Mesir seketika itu diselimuti tanda tanya. Terutama mereka yang berasal dari Aceh. Berbagai informasi dicari dan dikumpulkan sebisa mungkin. Maklum, pada hari itu informasi belum dapat diakses langsung dari Aceh. Apalagi oleh kami yang berada ribuan mil dari sana.

Saya menangkap kegelisahan di dalam diri Aulia. Hari itu juga dia mencoba untuk menelefon kembali kepada keluarganya di Aceh. Namun, hasilnya nihil. Sambungan telefon terputus ketika itu, bahkan hingga beberapa hari berikutnya. Duh, padahal baru saja malam hari sebelumnya dia ngobrol dengan keluarganya via telefon.

Kurang lebih lima hari kemudian, barulah informasi bisa kami peroleh. Meski belum ada angka pasti, namun kami mendengar bahwa Aceh luluh lantah. Tsunami itu diperkirakan menelan ratusan ribu korban jiwa dan hilang. Stasiun-stasiun televisi yang kami akses dari internet pun memperlihatkan bagaimana bencana itu terjadi. Sungguh mengerikan! Sontak duka mendalam pun menyelubungi kami.

Beberapa teman asal Aceh mulai memperoleh informasi tentang keluarganya. Banyak keluarga mereka yang selamat. Namun, tak sedikit juga yang tak tertolong. Khususnya keluarga dari teman-teman yang berasal dari Meulaboh, daerah pesisir yang paling besar dihantam tsunami.

“Ol, dah ada kabar dari Aceh?” Saya mencoba bertanya dengan hati-hati tentang kabar keluarganya.

“Habis sudah, Chid. Ayahku, mamaku, adikku, nenekku..” Ucapnya dengan mata yang memerah. Total ada 13 orang keluarga dekatnya yang menjadi korban. Selain yang ia sebutkan tadi, di antaranya masih ditambah kakak dari ibunya beserta kedua anaknya, juga pamannya sekeluarga (istrinya dan empat anak mereka). Tapi, sekalipun saya tidak melihat dia menangis karena musibah itu.

Saya menangkap kesedihannya yang sangat mendalam dari sinar matanya dan suaranya yang parau. Mendengar itu, saya tak kuasa lagi bertanya. Saya lebih memilih diam untuk menghormati sikapnya yang sangat tegar. Sejak saat itulah, kami menyibukkan diri dalam kepanitian yang dibentuk untuk menggalang gerakan sosial, meski harus mengorbankan persiapan ujian kami. Saat itu, kepedulian terhadap para korban jauh lebih besar daripada ujian. Setidaknya begitulah bagi saya, apalagi salah satu dari mereka adalah Aulia, teman satu flat bahkan satu kamar saya.

Suatu malam, saya lupa tanggal berapa saat itu, saya dan Aulia pulang dari Wisma Nusantara di kawasan Rab’ah, Nasr City, setelah menghadiri acara kepedulian terhadap korban tsunami Aceh. Kami menumpang sebuah bus yang sudah cukup penuh dengan penumpang, sehingga kami berdua pun berdiri. Posisi kami di bagian depan bis, tepat di samping sopir bis itu.

“Andunisi? Orang Indonesia?” Sang sopir bertanya ramah kepada kami. Aulia yang berdiri lebih dekat dengannya menjawab, “Aiwah! Ya!”

Sopir itu kemudian bertanya dengan penuh minat, “Bagaimana kabar Aceh? Aku melihat di televisi tentang berita tsunami. Hey, apakah kamu dari Aceh?” susulnya.

Aulia pun mengiyakan pertanyaannya itu. Mulailah perbincangan hangat di antara mereka. Sementara saya hanya menyimaknya saja dari jarak yang sangat dekat. Memang tak banyak yang sempat dibicarakan, namun dari cerita Aulia sopir itupun tahu bahwa Aulia adalah salah satu mahasiswa yang keluarga terdekatnya menjadi korban musibah itu. Sang sopir menyampaikan rasa belasungkawanya kepada Aulia.

“Bisakah kamu beritahu alamat rumahmu?” Tanya sang sopir. Saat itu kami tidak mengerti apa maksudnya meminta alamat kami. Bahkan kami sempat mengira ia hanya berbasa-basi saja.

Tapi rupanya tidak. Suatu siang, saat itu hari Jumat, kami baru saja sampai ke flat setelah menunaikan shalat Jumat di masjid As Salam yang letaknya dari flat kami hanya dipisahkan jalan yang cukup besar.

Sesampainya di flat, tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara klakson yang cukup keras dari arah luar. Entah dari mobil siapa. Namun, suara klakson itu lumayan kencang dan tidak berhenti melainkan terus berulang-ulang. Sangat membuat kami terganggu. Kami pun berinisiatif melihat keluar jendela. Flat kami saat itu ada di lantai tiga gedung apartemen.

Betapa terkejutnya kami saat melihat dari jendela. Ternyata suara klakson itu berasal dari sebuah bis yang diparkir tepat di samping flat kami. Bis itu nampak kosong dari penumpang, hanya ada sang sopir seorang diri. Dia melambaikan tangannya kepada kami, nampaknya ia ingin agar kami menghampirinya. Lalu, Aulia turun dari flat menuju bis itu. Sementara saya hanya memperhatikannya dari jendela.


Gambar diambil dari sini.

Tak lama kemudian, Aulia datang dengan senyum yang mengembang. Tangannya membawa banyak bungkusan.

“Apa itu, Ol?” tanya saya penasaran.

Bukannya menjawab, Aulia malah bertanya penuh semangat, “Chid, ente inget gak sopir bis yang waktu itu ngobrol ama kita waktu balik dari Wisma?”

“Hah? Jadi dia sopir bis yang waktu itu?” Sambut saya cukup kaget. Aulia mengangguk mantap sambil meletakkan bungkusan-bungkusan di atas karpet.

“Jadi waktu itu dia minta alamat kita itu karena dia pengen ngasih ini.” Aulia menjelaskan. 

“Tadi tuh kenapa dia bunyiin klakson soalnya dia lupa kita di apartemen dan flat nomor berapa. Dia cuma inget kita tinggal di seberang masjid As Salam. Tadi dia jumatan di sana.” Aulia menambahkan.

“Jadi dia bunyiin klaksonnya itu biar kita nongol dari jendela ya?” tanya saya.

“Hu uh, padahal dia nggak tau rumah kita yang mana hahahaa..! Jadi dia mikir orang-orang pasti bakal nongol dari jendela karena kesel sama suara klakson bisnya!” ucap Aulia disusul dengan tawanya.

Di bungkusan-bungkusan itu ada buah-buahan, minyak Samnah, gula, dan makanan lainnya. Akhirnya kami mengerti, sopir itu sangat berempati pada Aulia yang kehilangan keluarganya karena musibah Tsunami.

Dan, di Jumat-Jumat berikutnya, sopir itu selalu datang dengan bisnya dan membunyikan klaksonnya. Hanya saja klaksonnya tidak lagi ia tekan berkali-kali. Ia hanya membunyikannya satu kali, dan kami pun langsung mengerti.[]



Masih banyak cerita lainnya. Nantikan #egyptology di awal Februari.


Salam Hangat, 
Rashid Satari