Saturday, February 07, 2015

Menjemput Cahaya

Hai.. Sudah lama tak menyapamu. Iya kamu. –Dengan dialek Dodit. Tau Dodit kan?—
Sore itu, saya menumpang sebuah mikrolet menuju Pasar Rebo, Jakarta Timur. Penumpang tak terlalu penuh. Kalau tak salah ingat ada lima orang saja. Di depan sana, ada satu penumpang disamping pak kusir. Eh, pak sopir.
Saya duduk di pojok, di jok yang paling panjang. Kira-kira setengah meter di sebelah saya, duduklah seorang wanita muda dengan rambut sebahu. Hitam kemerahan karena cat rambut. Dari gayanya sih sepertinya dia kerja kantoran.
Deskripsi lebih detail tentang wanita muda itu begini.. Umurnya mungkin tigapuluhan, atau kurang. Kain masker putih yang biasa dijual di apoket-apotek, menutupi mulutnya. Bajunya warna merah dengan lengan pendek. Serasi dengan roknya yang juga merah, dan juga pendek. #eh. Ya, roknya memang pendek. Okelah, sebut saja mini. Tapi, dia memakai selendang agak transparan. Tersangkut di leher belakang, menjuntai hingga menutup rok dan sebagian kakinya.
Sebenarnya saya tidak bermaksud memperhatikannya lho. Tapi, gerak-geriknya membuat saya agak heran sehingga sesekali memperhatikannya. Dia duduk seperti tak tenang. Gesturnya seperti tegang. Dan, nampaknya yang mikir begitu bukan saya saja. Seorang ibu yang duduk di depan saya juga beberapa kali memperhatikannya.
Mikrolet berjalan terus. Sempat terjebak macet di depan pasar Kramat Jati. Sore menuju Maghrib. Pasar Kramat Jati mulai dimeriahkan oleh penjual ikan segar. Bau amis mulai mampir ke dalam mikrolet.
Di kota semegah Jakarta, memang bukan hal aneh sih wanita muda dengan pakaian minim. Atau ketat. Atau apalah yang sejenisnya. Mungkin bagi sebagian orang itu menjadi bagian dari dunia modern ya. Meski kalau di daerah penampilan seperti itu dipandang tabu, lain ceritanya di kota metropolitan. Tapi, tidak sore itu, di dalam mikrolet itu.
Si ibu di depan saya masih saja lirik-lirik memperhatikannya. Wanita muda itu seperti tak menyadarinya. Mungkin karena posisi duduknya juga agak nyerong ke arah depan. Ya, wanita itu memang terlihat duduk tak nyaman. Beberapa kali ia membetulkan selendangnya, agar menutup rok pendek dan kakinya.
Sampai di satu tempat, wanita muda itu seperti bersiap-siap untuk menyetop mikrolet. Ia betulkan posisi tas kecil di pangkuannya. Lalu, waaw! Saya melihat.. Saya melihat.. sebuah buku kecil yang ada di genggaman tangan kanannya.
Coba tebak apa judul buku tipis itu. Ah, ini bukan acara kuis tebak-tebakan. Baiklah akan saya kasih tau. Judul buku di genggaman tangannya adalah, “Wahai Ukhti, Kenapa Engkau Tidak Berjilbab?” Dulu, di sebuah pameran buku, saya pernah melihat buku kecil ini. Waktu itu harganya cuma 6.000 rupiah saja. Sang ibu di depan saya juga melihat buku kecil yang ia genggam.
Seketika itu pikiran saya seperti terlempar pada sebuah labirin berliku. Sempat saya berpikir apakah saya sedang menyaksikan sebuah anomali? Tapi saya yakin bukan. Ternyata di bawah remang cahaya lampu mikrolet yang ketar-ketir melawan hari yang makin gelap, ada pergulatan batin seorang wanita muda. Pergulatan antara aurat yang masih terumbar - terlebih ada laki-laki asing duduk tak jauh darinya-, dengan pikiran yang terpaut pada isi buku di tangannya.
Maka, muncullah kepingan-kepingan puzzle di pikiran saya. Kepingan-kepingan yang saling bertemu menyatu membentuk asumsi kesimpulan. Wanita muda itu belum selesai memamah halaman demi halaman, paragraf demi paragraf dari buku tipis itu. Ia sedang mencari pelipur kerinduan akan rasa tenang untuk hatinya yang sembab. Ia ingin penuhi dahaganya hatinya untuk kembali pada kodrat seorang wanita : berjilbab!
Duhai senja yang tak pernah berlama-lama. Apalah arti perjalanan menjengkelkan tersebab kemacetan. Jika di dalamnya terdapat anak manusia yang sedang dalam perjalanan terjal menuju iman. Apalah arti teriknya ibu kota, jika di dalamnya terdapat anak-anak manusia yang jatuh bangun menuju Rabb-nya.
Wanita muda itu turun di tempat yang tak pernah saya ingat. Usai membayar ongkos, ia hilang di balik gelap malam pada sebuah gerbang jalan. Berjalanlah terus wanita muda. Menjemput cahaya.    
Gambar dari sini.


    Garut. 070215 | Rashid Satari